Home » Warta Umum (Page 51)
Category Archives: Warta Umum
Ajakan Perayaan 500 Tahun Reformasi

GKJbrayatkinasih, Jakarta- Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak Pimpinan Sinode Gereja Anggota PGI, Pimpinan PGIW/SAG, Pengurus POUK dan BP POUK serta Pimpinan STT-STT Anggota PERSETIA gereja-gereja untuk merayakan 500 tahun Reformasi.
Terkait dengan itu, PGI dan KWI telah menyiapkan Bahan Pekan Doa Untuk Kesatuan Umat Kristiani tahun 2017. Bahan tersebut dapat dipakai dalam Ibadah pada puncak perayaan 500 tahun reformasi, yaitu pada 31 Oktober 2017.
Di Pembukaan Pesta Paduan Suara Gereja, HMI Tampilkan Lagu Tadarus

GKJbrayatkinasih, Salatiga – Ada yang menarik di Pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) tingkat Provinsi Jawa Tengah 2017 di Lapangan Pancasila, Salatiga. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Salatiga, diundang mengisi acara pembukaan dan menyanyikan lagu berjudul Salam dan Tadarus.
Ketua Umum Korps-HMI-Wati (Kohati) Cabang Salatiga, Shofi M, mengatakan HMI Cabang Salatiga diminta untuk mengisi dalam acara pembukaan Pesparawi tingkat Provinsi Jawa Tengah di Kota Salatiga.
“Kami mengisi acara pembukaan untuk menegaskan Kota Salatiga sebagai kota toleransi. Kami pun membawakan lagu ‘Salam dan Tadarus’,” kata Shofi di sela-sela pembukaan di Lapangan Pancasila, Senin (9/10/2017), sore.
Keikutsertaan HMI dalam pembukaan, kata dia, untuk menunjukkan bentuk sikap toleransi. “Kami diminta Panitia Pesparawi untuk ikut mengisi,” kata dia.
Dalam pembukaan Pesparawi, pengamanan selain melibatkan Polri, Satpol dan Dishub Kota Salatiga, juga melibatkan Barisan Ansor Serbaguna (Banser). “Banser menerjunkan 30 personil,” kata Ari Mulyono, Komandan Banser Salatiga.
“Pesparawi ini diikuti 15 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Sedangkan keterlibatan teman-teman (HMI dan Banser) ini sebagai perwujudan dari toleransi. Kota Salatiga dinobatkan sebagai Kota Toleran di Indonesia,” ujar Ketua Ketua I Panitia Pesparawi, Purwanto. (Sumber: detik.com)
Sejarah Gereja Ayam, Berawal dari Sebuah Petuah

GKJbrayatkinasih, Magelang – Semenjak film AADC 2 (Ada Apa dengan Cinta) keluar bangunan ini jadi hits. Beginilah sejarah Gereja Ayam yang berawal dari petuah.
Bangunan rumah doa di Bukit Rhema Borobudur itu memiliki sejarah panjang. Sejak dibangun oleh pemiliknya, Daniel Alamsjah (74), tahun 1992 lalu. Putra ketujuh Daniel, William Wenas (36) berbagi cerita kepada detikTravel beberapa waktu lalu.
Berawal dari tahun 1988 lalu, Daniel yang merupakan karyawan dari sebuah perusahaan swasta di Jakarta memperoleh mimpi yang aneh. Dirinya diminta membangun sebuah rumah doa di perbukitan asing yang belum pernah dikunjunginya.
Mimpi itu tak hanya berlangsung sekali, namun hingga beberapa kali. Sampai akhirnya pada tahun 1988 Daniel pergi berwisata mengunjungi kawasan Borobudur.
“Suatu ketika papa berpapasan dengan pemuda setempat bernama Jito yang juga penyandang disabilitas. Dia tidak bisa berbicara atau tuna wicara,” terang William.
Daniel sempat berkomunikasi dengan Jito yang ternyata hendak mengambil kayu di sebuah bukit di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Pria asal Lampung itu pun kemudian mengikuti Jito dan sampai di bukit yang ternyata sama dengan bukit di dalam mimpi.
Akhirnya Daniel memutuskan berdoa semalam suntuk di bukit itu hingga dirinya mendapatkan semacam wahyu untuk membangun rumah doa. Perbukitan tempat membangun rumah doa itu sendiri kemudian dinamai Daniel dengan nama Bukit Rhema yang bagi umat Kristiani berati firman yang hidup.
Sejarah Gereja Ayam, Berawal dari Sebuah PetuahFoto: (Ambar/detikTravel)
“Dulu nama bukitnya apa saya kurang tahu, tapi sekarang jadi dikenal dengan nama Bukit Rhema,” kata William.
Daniel kemudian memantapkan diri untuk membangun rumah doa meski dirinya hanya seorang karyawan di Jakarta. Bentuk bangunan itu dibuat menyerupai burung merpati yang merupakan simbol perdamaian dan roh kudus.
Tahun 1992, rumah doa mulai dibangun. Lalu pada tahun 1996 proses pembangunan sempat terhenti karena krisis moneter.
Bangunan rumah doa ini sempat dimanfaatkan tidak hanya sebagai tempat ibadah. Penggunaannya mulai dari tempat panti rehabilitasi bagi anak-anak yang kekurangan fisik, orang ketergantungan narkoba, orang kurang waras, dan anak muda yang memiliki masalah.
Pada tahun 200, Gereja Ayam sempat ditutup karena penolakan oleh warga. Namun bangunan rumah doa ini akhirnya kembali dibuka sebagai tempat wisata pada tahun 2014.
“Konsep wisata yang kita usung adalah wisata religi, wisata alam, wisata edukasi, dan lainnya,” ungkap William.
Jika traveler penasaran jangan lupa mengunjunginya saat plesir ke Candi Borobudur. Waktu terbaik adalah saat fajar sambil menunggu matahari terbit, seperti adegan film AADC 2 itu. Romantis bukan? (Sumber: detik.com)