Home » Artikel (Page 27)
Category Archives: Artikel
Masuk Kelompok Mana ?

Cara yang berbeda dalam membaca cerita pengadilan terakhir (Matius 25 : 31 – 46).
Saatnya nanti ketika detik tidak lagi berbunyi, putaran bumi berhenti dan zaman sampai pada kematiannya. Maka akan diadakan pengadilan terbesar bagi seluruh orang di muka bumi ini. Pengadilan tersebut dipimpin oleh hakim tertinggi yang mempunyai kredibititas sangat terpercaya yaitu TUHAN. Ia akan didampingi oleh para ajudan, yang berpakaian putih dan bersayap. Pengadilan itu ternyata sangatlah sederhana. Pengadilan itu berlangsung tanpa ada proses yang berbelit-belit, tidak ada kesempatan bagi manusia untuk mengatur keputusan dengan cara memberi upeti kepada hakim melaui ajudanNya sebagai.
Pengadilan itu juga tidak membutuhkan pembela dan jaksa penuntut. Semuanya diambil alih oleh satu hakim yaitu Sang Maha Tahu. Ia memberikan perintah kepada seluruh ajudanNya untuk memisahkan semua manusia itu kedalam dua kelompok besar. “Tuan, bagaimana caranya bisa memisahkan mereka, mereka terlalu banyak untuk bisa ditanya satu persatu ?”, tanya seorang malaikat. “Sederhana saja, kamu tinggal mengamati dahi mereka masing-masing. Kalau nampak gambar domba maka perintahkan mereka untuk masuk ke Hall A dan kalau gambar yang terlihat adalah kambing maka perintahkanlah mereka untuk masuk ke Hall B”, demikianlah penjelasan Sang Empunya Kuasa sambil memegang baku besar di tangan kananNya. “Segera lakukan!”, lanjutNya.
Dalam sekejab, kumpulan itu sudah mulai memasuki hall A dan hall B. Sementara para malaikat sibuk mengamati dan mendata setiap orang masuk di Hall A dan Hall B, Sang Pengadil sudah menunggu di Hall A. Ia berdiri atas altar didampingi dua malaikat yang berdiri disebelah kiri dan kananNya. Setelah pintu ditutup dan semua orang sudah menempati tempat duduk masing-masing, Ia mulai berbicara. “Hai, saudaraku. Selamat datang di Rumah Kekekalan. Disini kita semua akan tetap hidup dan tidak akan pernah mengenal kematian lagi. Saya mengucapkan selamat untuk saudara semua karena semua yang masuk di ruangan ini akan menikmati nikmat surga selama-lamanya”, demikianlah kata Sang Pengasih. Serentak semua orang berdiri dan bertepuk tangan, sambil juga memberikan ucapan selamat kepada teman disebelah kanan dan kirinya.
Keriuhan itu tiba-tiba berhenti ketika ada satu orang yang berteriak dengan keras :”Tunggu dulu, apa yang pertimbangan dari keputusan itu Sang Pengasih. Kami senang akan keputusan ini, namun kami ingin tahu dasar pertimbangannya?”. “Silahkan duduk semuanya. Keputusan ini diambil berdasarkan pengalamanKu sendiri. Kalianlah orang-orang yang selalu memberi Aku makan ketika Aku kehabisan beras. Memberi Aku minum ketika Aku kehausan. Kalian pulalah yang senantiasa setia menjenguk Aku ketika Aku harus dirawat di Rumah Sakit. Bahkan kalian tidak segan untuk datang ke penjara untuk melawat Aku. Kalian semua juga perlu tahu, kalau pakaian yang Aku kenakan ini adalah pemberian kalian sewaktu Aku telanjang”, demikianlah penjelasan dari Sang Pengadil tersebut.
Semua orang tercengang, diam dan hening. Sampai akhirnya suasana hening itu terobek oleh seorang yang berdiri dan mengajukan pertanyaan : “Tuan, maaf sebelumnya. Supaya lebih jelas dan keputusan ini tidak salah alamat dan kami tidak mau menikmati kenikmatan yang bukan menjadi bagiankami. Senarnya kami atau paling tidak saya sendiri tidak pernah melakukan semuanya itu. Kami tidak pernah bertemu denganMu dalam keadaan yang Engkau sampailkan”. Dengan satu tarikan nafas dan senyum yang mengembang di bibir, Sang Penolong itu berkata : “Sesungguhnya, Aku sering mengubah diriKu menjadi orang-orang kecil, hina, papa dan terpinggirkan. Dan semua yang kamu lakukan untuk orang-orang yang hina, papa dan terpinggirkan itu, sebenarnya kamu sedang melakukannya untuk Aku. Aku tahu bahwa perbuatan baikmu tidak pernah bisa menebus kesalahanmu sendiri, namun Aku menambahkan karunia besar untuk semua kebaikanmu. Sekarang terimalah kebahagian yang sudah Aku siapkan untuk kalian”. Dalam sekejab susana menjadi riuh dengan tawa, tangis haru dan pelukan untuk saling mengucapkan selamat. Sementara mereka semua dengan terbungkus bahagia, Sang Pengadil keluar dari Hall A menuju Hall B.
Ukuran Hall B sangatlah besar, namun ternyata kursi yang disiapan oleh panitia tidak cukup bagi begitu banyak orang yang masuk. Sang Pangadil masuk dengan wajah yang tegang, membuat orang-orang yang hadir juga lebih tegang. Inilah putusan yang menentukan nasib mereka selama-lamanya. Ada yang kelihatan cemas karena orang-orang yang ia kenal di ruangan itu adalah orang yang jahat saat hidupnya. Banyak juga yang lain menampilkan wajah yang cerah karena mereka melihat banyak orang-orang saleh bahkan pemimpin-pemimpin agama yang pernah mereka kenal masuk di ruangan itu.
Sambil menghela nafas, Sang Pengadil mulai berbicara : “Hai, saudaraku. Selamat datang di Rumah Kekekalan. Disini kita semua akan tetap hidup dan tidak akan pernah mengenal kematian lagi. Saya harus menyampaikan keputusan ini untuk saudara semua. Saudara semua yang masuk di ruangan ini akan mengalami siksa neraka selama-lamanya”. Semua mulai ribut, ada yang mengumpat dan ada pula yang mau bergerak ke arah podium namun para pengawal dengan sigam membuat batas trasnparan yang tidak mungkin mereka tembus. Ada diantara mereka mulai berteriak :”Hai, Tuan… siapa yang mengatur keputusan ini. Berapa Engkau dibayar untuk menentukan keputusan ini. Kami siap membayar lebih’”.
Sambil tersenyu Sang Penguasa berkata :”Aku punya segala-galanya, jadi Aku tidak akan goyah oleh suap apapun. KeputusanKu ini tetap dan mengikat. Aku punya alasan yang jelas untuk keputusanKu ini. Kalian semua masuk dalam siksa neraka karena kalian tidak pernah memberi Aku makan saat Aku lapar, memberi Aku pakaian ketika Aku telanjang, menengok Aku ketika Sakit, menengok Aku dalam penjara. Kalian sangat keterlaluan sekali. Ada juga diantara kalian yang permemperhatikan Aku namun Aku menjadi kecewa sekali karena ternyata itu hanya kamuflase dan cara menarik simpati orang lain dan kemudian kalian mendapat kentungan berlipat kali ganda dengan apa yang kamu berikan kepadaKu”. Seseorang berdiri dan berkata dengan nada marah : “Memangnya, Tuan pernah lapar, haus, sakit atau dalam penjara? Kalaupun Tuan seperti itu, kami tidak pernah menerima proposal yang Tuan ajukan kepada kami. Kalau ada proposalnya kan, kami bisa acc”. Sambil menghela nafas Sang Pengadil berkata: “Itulah model kalian…. keterlaluan”. Dengan melambaikan tangan sebagai tanda perintah kemudian semua orang itu dimasukkan kedalam neraka.
Belum selesai prosesi penghukuman itu, masuklah malaikat berlari-lari menjumpai Sang Cahaya, ia menyembah dan kemudian berkata : “Tuan, mafkan kami. Ada banyak orang yang masih diluar dan belum masuk di Hall A dan Hall B. Kami bingung untuk dimasukan di kelompok mana. Tanda di dahi mereka berbeda dengan dua tanda yang sudah Tuan sampaikan”. Sambil menepuk pundak malaikat itu, Sang Sabda berkata : “Suruh mereka semua masuk di Hall C, mereka adalah kelompok srigala”.
Dalam sekejab Hall C sudah penuh sesak dengan orang-orang. Ruangan menjadi terasa panas karena orang yang memadati ruangan melampaui kapasitas. Sambil mengacungkan tangan kearah semua hadirin, Sang Pengadil mulai bersabda :” “Hai, saudaraku. Selamat datang di Rumah Kekekalan. Disini kita semua akan tetap hidup dan tidak akan pernah mengenal kematian lagi. Saya harus menyampaikan keputusan ini untuk saudara semua. Saudara semua yang masuk di ruangan ini akan mengalami siksa neraka selama-lamanya. Rancangan semua, tidak pernah ada kelompok srigala namun kalian membuat kelompok ini”. Ruangan menjadi sangat mencekam, nada marah Sang Penguasa membuat ngilu seluruh tubuh mereka. Sang Pengadil meneruskan sabdaNya : “Kalianlah kelompok orang yang membuat Aku lapar, menelanjangiKu didepan banyak orang, merampas minumKu untuk mencuci kakimu yang kotor. Kalianlah yang membuat lebam disekujur tubuhku, membuatKu sakit fisik maupun psikis. Kalianlah yang menjebloskanKu ke dalam penjara”.
Semakin mencekam suasana ruangan itu. Ada satu orang yang mencoba mengankat wajahnya untuk melihat kearah Sang Pengadil, tiba-tiba Sang Pengadil kembali berkata : “Hai kamu, yang mau mengangkat wajahmu. Apakah engakau mau membatah tuduhanKu? Apakah engkau mau mengatakan bahwa kamu tidak pernah melakukannya? Dengarkanlah Aku ; kamu adalah orang yang menganggap semua orang bahkan keluargamu sendiri adalah orang asing yang tidak perlu kau perhatikan. Kamu adalah perampas jaminan makanan bagi anak-anak bangsa. Kamu yang menjual sumber-sumber penghidupan untuk kesenanganmu sendiri. Kamu suka menelanjangi kesalahan orang dan juga menelanjangi satu generasi dengan merampas apa yang menjadi milik mereka. Kamu juga yang membuat anak-anak muda frustasi karena hidup tanpa teladan, dan membuat mereka terpaksa bertindak yang menyeret mereka ke penjara”.
Dengan tangan kanan yang diangkat keatas, Sang Pengadil bersabda : “Kalian semua masuk neraka dan bahkan sebenarnya kalian terlalu enak untuk dimasukkan ke dalam neraka”. Sekejak kemudian terdengar tangisan yang mengharu-biru, rintihan yang menyayat, penyesalan yang terlambat. Semuanya itu adalah akhir dari kehidupan dan sekarang ini kita belumlah sampai disana. Kita punya kesempatan untuk menata diri. Dikelompok manakah kita akan dikumpulkan?
Oleh: Pdt. Sundoyo. GKJ Brayat Kinasih.
Kenapa Orang itu Mati ?

Seorang anak yang masih duduk dikelas 4 sekolah dasar bertanya kepada saya. ‘Pak Pendeta, kenapa orang itu harus mati? Kan Tuhan sudah menciptakannya, kenapa Tuhan memanggilnya kembali ?’, demikian sergap seorang anak laki-laki yang menghentikan perbincangan di ruang tamu. Saya hanya diam dan memandang mata bulat hitam yang bersinar itu. Saya melirik eyang putri yang duduk persis di depan saya.
Dengan cepat eyang putri berambut putih itu menjawab pertanyaan yang kusampaikan dengan bentuk wajah yang mlenggong. “Begini pak, mas ini sedang gelisah karena hanya sesekali ketemu dengan eyangnya waktu libur sekolah. Dia sangat sayang sama eyang kakungnya. Tapi kita sudah memberi pengertian bahwa suatu saat eyangnya akan dipanggil Tuhan. Dia sedih malah jadi murung “, kata eyang dengan tiga cucu itu.
“Waduh, cilaka ini. Ini persoalan serius. Bagaimana menerangkan rahasia kematian kepada seorang anak”, pikir saya berkecamuk dan segera membuka file yang mungkin pernah disimpan di sudut memori pikiran. Sambil berdoa, saya terus mencoba mengingat apa yang bisa saya sampaikan sebagai gambaran soal kematian. Ingatan saya tertuju pada peristiwa sederhana yang pernah terjadi saat membantu istri memindahkan bunga-bunga yang sudah memulai membesar.
Sore itu saya mencoba memindahkan bunga yang semakin besar dengan pot yang sudah semakin rusak dan terlihat sesak. Akar bunga sudah mulai menembus pot yang terlihat menggelembung karena desakan akar. Setelah selesai menyiapkan pot baru yang lebih besar dengan media yang lebih segar. Segera saya pindahkan bunga itu ke pot yang baru. Saat mengambil dan memindahkan bunga itulah hati saya bergetar. ‘Inilah kematian’, pikir saya menyergap.
Kematian adalah ketika kita dipindahkan dari tempat yang terbatas menuju tempat yang lebih luas.
Bukankah hidup kita seperti itu. kita dulunya adalah sperma dan sel telur. Dengan kapasitas dan usia hidup yang terbatas. Tuhan ingin memberikan kita kesempatan yang jauh besar lagi. Jadilah janin dalam perut seorang ibu. Tuhan ingin memberikan kebahagiaan yang lebih buat kita tapi kandungan tidaklah cukup bisa menampung kebahagiaan itu. Kemudian kita lahir di dunia dengan kapasitas dan kebahagiaan yang lebih dari pada seorang janin di dalam perut.
Namun perhatikanlah ada peristiwa kematian yang terjadi. Cara melihat, mendengar dan mendengar sangat berbeda dan berudah disaat kita masih dalam kandungan ibu dan setelah kita masuk ke dunia yang baru yang disiapkan oleh Tuhan. Setelah kita hidup di dunia dengan segala macam warna, Tuhan ingin memberikan kebahagiaan yang lebih lagi untuk kita. Dan kita diambil dari tempat dunia yang sekarang untuk diletakan di tempat yang lebih indah, mulia dan tidak terbatas masanya. Tuhan siapkan tempat bagi kita.
Seperti dalam firmanNya di Injil Yohanes 14 : 1- 3 : “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada”.
Ingatan ini yang menjadi modal untuk menjawab pertanyaan anak dengan rambut lurus kayak ijuk itu. Saya mengandeng tangannya untuk keluar dari ruangan. Setelah sampai di teras, saya meminta cucu pertama keluarga itu untuk mengamati bunga di pot. “Mas, kalau bunga ini tambah gede dan potnya tidak cucup. Apa yang akan kamu lakukan?”, pancing saya untuk mulai menjelaskan. Sungguh luar biasa, anak dengan tubuh gempal itu dengan sangat tepat menjawab pertanyaan saya. “Ya, saya pindah ke pot yang lebih gede dong pak? Atau saya tanam di halalam itu”, jawabnya dengan logat Jakarta sambil menujuk tanah kosong dengan pohon mangga.
“Jadi bunganya tidak mati kan mas ? Bunganya hanya berpisah dengan tempatnya dan sekarang ditanam di tempat yang belih bagus dan lebih besar”, segera kata saya untuk memenangkan kesempatan yang ada. Saat ia menganguk tanda mengerti, saya segera melanjutkan penjelasan soal kematian. Saat tubuh kita semakin lama semakin rusak maka Tuhan memindahkan kita ke tempat yang lebih bagus. Jadi kematian itu bukan selesainya hidup, kematian adalah berpindahnya hidup ke tempat yang lebih bagus. “Apakah bisa mengerti ?”, tanya saya. “Sudah ngerti”, jawabnya sambil berlari ke dalam rumah.
Kematian bukanlah selesainya kehidupan. Kematian adalah gerbang perpindahan menuju kehidupan yang penuh damai sejahtera.
Oleh: Pdt. Sundoyo
GKJ Brayat Kinasih
Kembang Api

GKJbrayatkinasih, Miliran- Saya selalu merasa menjadi orang yang tetap sama seperti beberapa tahun yang lalu. Saya ini masih muda, masih tampan dan menyenangkan. Tidak terasa bagi saya kalau sudah bertambah umur dan semakin tua. Hal yang paling menunjukan bahwa saya sudah tua adalah perjumpaan dengan orang-orang disekitar saya. Ketika saya berjumpa dengan anak-anak sekolah minggu yang sekarang sudah memasuki masa remaja membuat saya sadar bahwa mereka sudah besar, ini berarti saya sudah tambah tua. Saat saya punya kesempatan pulang kampung dan bertemu dengan anak-anak kecil jaman saya masih di desa, sekarang mereka sudah menggendong anak.
Kenyataan-kenyataan ini membuka mata saya bahwa ternyata saya memang sudah tua. Lebih terhenyak lagi ketika bertemu dengan ponakan yang saya kenal masih menggunakan kain untuk menghapus ingus sudah menjelma menjadi anak-anak yang cantik dan tampan dengan gaya-gaya anak muda. Semakin menunjukan bahwa kain yang mengantung di baju itu merupakan pemandangan yang sudah lama sekali. Ini semua tentang saya, bagimana dengan saudara. Apakah mengalami perasan seperti saya?
Menjadi lebih terasa lagi saat kita melihat anak-anak kita, sepertinya baru kemarin kita membersihkan popoknya dan sekarang kita sudah membantu mereka membersihkan popok anak mereka masing-masing. Sepertinya baru kemarin, dan ternyata sekarang sudah sangat berubah. Kita baru menyadari bahwa kita sudah semakin tua dengan melihat perubahan-perubahan yang ada di sekitar kita.
Kembali ke saya lagi, tanggal 6 Agustus adalah hari ulang tahun Bintang anak saya. Bertambahnya usia sang buah hati sekali lagi menusuk hati saya dan menyadarkan saya bahwa saya sudah tua. “Kalau tidak percaya, lihat cermin saja”, kata hati saya sendiri. Rambut sudah semakin habis dan semakin mejauh dari garis mata, dan banyak rambut warna putih yang bertebaran dimana-mana.
Melihat dan menyadari semuanya itu, membawa kita pada kenyataan bahwa hidup yang kita jalani menjadi begitu singkat. Sangat cepat berlalu, sepertinya baru kemarin dan sekarang sudah sangat berubah. Perjalanan waktumembawa kita semakin tua, semakin rapuh dan semakin mendekati garis akhir perjalanan kehidupan kita. Kalau kita menyadari kehidupan kita yang begitu cepat berlalu, mari kita bertanya: “Kita sudah berbuat apa di waktu yang kita miliki sekarang?”. Kita tentu bisa menjawabnya dengan sangat cermat tentang apa yang kita mau lakukan dalam hidup ini.
Untuk menjawabnya saya mempunyai pengalaman yang membekas dalam hati saya. Beberapa tahun yang lalu sebelum saya mempunyai istri. Baru satu tahun menjadi pendeta, masih sangat muda dengan kulit wajah yang masih bisa ditarik dengan kencang. Saya tertarik untuk menonton konser musik di Stadion Mandala Krida. Band Padi yang saat itu menunjukan cakarnya untuk mencengkeram ribuan penonton yang memadati stadion, membius sanubari penikmat musik dengan lirik ‘sobat’ dan ‘mahadewi’nya.
Setelah banyak lagu selesai, konser malam itu ditutup dengan lagu yang mengajak semua penonton ikut bernyanyi. Kemudian diakhiri dengan pesta kembang api. Satu persatu kembang api meluncur ke angkasa, meninggalkan jalur api dan sebentar kemudian meledak dengan barbagai macam bentuk dan paduan cahaya yang menerangi malam gelap. Setiap kembang api yang menyala disertai dengan teriakan kebahagiaan dan tepuk tangan semangat oleh seluruh penonton. Cahaya kembang api itu sudah memenuhi seluruh ruang hati di setiap orang yang menyaksikan, membawa kebahagian dan kecerian bagi setiap orang.
Sepulang dari konser musik itu, saya terus merenungkan peristiwa kembang api itu. Ia hanya berumur sepersekian menit, bahkan hanya hitungan detik saja. Ia menyala, meluncur dan meledak dalam waktu yang sangat cepat. Namun sungguh luar biasa, dalam kehidupan yang sangat pendek itu sangat berarti dan bermakna bagi orang yang menyaksikan. Membuat keceriaan dan kebahagiaan bagi setiap orang yang menyaksikan. Hal inilah yang membuat saya tersentak saat itu. Pertanyaan saya muncul, apakah kehidupan saya bisa seperti kembang api? Kehidupan yang walaupun singkat dapat memberikan kebahagiaan dan keceriaan bagi setiap orang yang menyaksikan kehidupan yang saya jalani.
Dalam buku: “God’s Little Lessons on Life for Dad”, By Honor Books, Tulsa – Oklahoma, tahun 1999. Topik tentang kebahagiaan menceriterakan tentang seorang gadis yang dalam keadaan sedih dan kesepian. Sabrina nama gadis itu, ia berjalan melewati padang rumput, ia melihat kupu-kupu yang sayapnya terjerat di semak-semak. Sabrina melepaskan kupu-kupu itu, tiba-tiba kupu-kupu itu berubah menjadi peri cantik. “Kamu gadis yang baik, aku akan memberitahukan kepadamu rahasia dari kebahagiaan”, kata peri cantik itu. Kemudian ia membisikkan sesuatu ke telinga Sabrina. Sabrina pun tumbuh dan banyak orang merasa bahagia karenanya dan dia juga merasa bahagia dalam hidupnya.
Ketika ia sudah tua dan dalam keadaan sekarat, ia ditunggui oleh keluarga dan tetangganya. Ia kemudian menyampaikan resep kebahagiaan yang selama ini dirahasiakan. Inilah yang ia katakan : “Tidak masalah, orang itu tua atau muda, kaya atau miskin. Tidak masalah bagaimana orang itu kelihatan kuat, semuanya membutuhkan aku”. Inilah rahasianya tantang kebahagiaan yang mendatangkan kebahagiaan bagi orang lain. Kebutuhan untuk merasa dibutuhkan adalah satu dari kebutuhan mendasar dari manusia. Jika kamu dapat menemukan jalan supaya orang-orang di sekitarmu merasa dibutuhkan oleh kamu dan orang lain. Kamu akan menemukan kebahagiaan untuk dirimu sendiri.
Teks Alkitab dalam 1 Timotius 6 : 17-19 bersabda kepada kita : “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah mereka itu agar berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi, dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya”.
Oleh: Pdt. Sundoyo – GKJ Brayat Kinasih