Home » Artikel (Page 26)
Category Archives: Artikel
Si..Mbah

Tidak muat lagi….. itulah rasanya hati ini ketika mendengar bahwa gunung anak Krakatau menggeliat, memberikan acaman bagi kehidupan. Sudah tidak ada tempat lagi bagi hati ini untuk menyaksikan bahwa ada puluhan gunung di Indonesia yang mulai menaikkan status mereka. Debu masih menempel di daun-daun tanahan depan rumah. Masker yang sudah tebal dengan debu vukanik belumlah disingkirkan dan sepertinya akan banyak masker yang lain yang dibutuhkan di tengah-tengah ancaman yang ada.
Bagaimana kita harus melihatnya…. bagaimana kita harus menceritakan kepada anak-anak cucu kita tentang segala penderitaan dan sekaligus juga akan iman yang tetap teguh bahwa Tuhan semesta alam adalah sumber segala kebaikan. Bagaimana dengan Marapi, kenyataan yang paling dekat dengan hidung kita sendiri.
Di dalam buku Mata Air Bulan, Sindhunata merefleksikan iman dari orang-orang miskin yang sederhana di daerah sekitar lereng Gunung Merapi, ketika dia bertugas sebagai imam di antara mereka. Buku ini merupakan salah satu dari buku-buku yang sangat mengharukan yang pernah saya baca. Gunung Merapi merupakan pusat refleksi dari penduduk tersebut.
“Mbah Merapi menakutkan tetapi juga penuh dengan cinta terhadap penduduk desa. Mbah Merapi berada jauh di kratonnya, yang tak terhampiri oleh manusia, tetapi Mbah Merapi juga selalu datang dan mendekati manusia. Memberikan kesuburan dan kehidupan bagi manusia. Dengan laharnya dan letusannya yang mematikan, Mbah Merapi menuntut korban manusia, tetapi Mbah Merapi juga membalasnya dengan rejeki alam berlimpah-limpah.
Kami mendengar lagi gemuruh dari Gunung Merapi. Kami merasa Tuhan itu seperti Mbah Merapi : Tuhan itu dahsyat tapi indah, Dia mematikan tetapi juga menghidupkan, Dia jauh tetapi dekat, Dia menuntut banyak tetapi juga memberi dengan murah hati, Dia kaya raya tetapi juga sangat sederhana. (Seperti yang dikutip oleh Prof. Pdt. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D dalam tulisannya : “Allah dan Penderitaan di Dalam Refleksi Teologis Rakyat Indonesia” dalam buku : Teologi Bencana).
Inilah penggalan refleksi tentang Mbah Merapi, pemberi kesusahan yang mematikan namun sekaligus memberikan daya kehidupan yang melampaui semua kerusakan yang ditimbulkan. Banyak ancaman bencana yang ada di sekitar kita, potensi yang terkandung dalam bumi Indonesia. Semuanya akan menghampiri kita tanpa terlebih dahulu ijin dengan kita. Kita tidak punya kuasa untuk mencegahnya. Namun persoalan seberapa banyak yang akan menjadi korban, bagaimana dampaknya bisa diperkecil, kita punya kemampuan untuk melakukannya. Kita bertanggung jawab meminimkan korban yang ditimbulkan.
Geserkan sedikit kaki, julurkan sedikit leher dan mari sekarang kita belajar dari peristiwa yang mematikan itu. Saat tanda dibunyikan bahwa segera mengungsi, maka kita melihat banyak orang yang berusaha menyelamatkan diri. Meninggalkan rumahnya, meninggalkan ternaknya, meninggalkan semua hal yang menjadi hak miliknya. Hanya membawa apa yang bisa dibawa. Di sinilah kita menemukan makna akan kehidupan. Keselamatan lebih penting dari pada apapun yang kita kumpulkan dalam kehidupan ini.
Tuhan bersabda kepada orang kaya yang bodoh, yang mengumpulkan harta benda tanpa peduli untuk hidup dalam cara yang benar. Kemudian kematian menjemput, untuk apakah semua harta yang kau kumpulkan itu, hai orang kaya yang bodoh. (Lukas 12 : 13 – 21). Harta bukanlah tujuan dan kalau kita menempatkan harta sebagai tujuan maka kehidupan ini akan menjadi terjungkir tidak karuan. Tujuan kita adalah Tuhan, mari menempatkan itu sungguh-sungguh sebagai arah kehidupan kita.
Namun dalam berita kita menyaksikan ada seorang simbah yang tidak mempedulikan keselamatan nyawanya sendiri dan bertekat untuk tidak mengungsi. Berita tentang beliau setinggi awan panas yang membumbung ke angkasa. Mencengangkan setiap keharusan pikiran kita. Namun sekali lagi mari kita belajar dari Si Mbah ini. Menggema dalam ruang batin kita bahwa beliau setia sampai maut menjemput untuk menjalankan tugas hidupnya, setia sampai bersimpuh tak bernyawa untuk menunjukkan kesetiaan terhadap komitmennya mejalankan tugas. Bertanggung jawab penuh pada apa yang sudah diucapkan dikala bersedia memangku jabatan.
Inilah gema yang menggelegar bersama dengan hujan abu yang menyelimuti Yogyakarta. Mengingatkan kita akan banyak komitmen yang kita ucapkan, mengajarkan akan arti kesetiaan akan janji yang pernah diucapakan. Gema itu melaju dan menyergap setiap suami atau istri untuk tetap setia dengan janji pernikahannya, menyelimuti batin setiap orang tua untuk berkomitmen memberikan teladan hidup bagi anak-anak pewaris jaman. Mengguncang kursi para pejabat yang mungkin terlena dengan dinginnya ac ruangan, melupakan atau terlupa dengan janji saat serah terima jabatan.
Kita bisa mengembangkanya sendiri ke dalam seluruh sendi kehidupan keluarga dan bangsa kita, akan sebuah kesungguhan hati memegang tanggungjawab sampai mati. Sebuah gema yang menggelegar bersama dengan dahsyatnya Si Mbah Merapi dan Si Mbah yang telah mati.
Rengungkanlah sabda ini, 1 Samuel 26:23 “TUHAN akan membalas kebenaran dan kesetiaan setiap orang”. O ya.. satu yang terakhir : Janganlah berita tentang si mbah ini dan siapa penggantinya mengalahkan berita dan perhatian kita kepada para korban. Selamat melayani mereka yang membutuhkan bantuan. Lihatlah Tuhan sedang mengantri makanan bersama para korban.
Oleh: Pdt. Sundoyo
GKJ Brayat Kinasih
“Rejekine Bocah”

“aduh…. aduh…. mas, sakit”. Inilah rintihan seorang wanita yang baru dinobatkan menjadi seorang ibu. Ia masih harus menjalani perawatan setelah proses kelahiran normal. Bintang Kinanti Anugraheni, menjadi prasasti akan pengharapan yang cukup panjang, jawaban dari doa dan upaya, doa bagi masa depan sebagai pewaris berkat dan rahmat Tuhan. Sesekali saya menggelengkan kepala untuk menghilangkan rasa pening karena bangun terlalu pagi, saya terbangun karena rintihan pasien di sebelah saya. Saya tidak bisa tidur lagi dan lebih baik saya gunakan waktu untuk menulis bagi para sahabat.
Empat tahun lebih, kami harus menunggu. Semua terasa lepas saat waktu menunjukan pukul 11.25 wib, pada tanggal 6 Agustus 2009. Saya menunggui saat-saat kontraksi mengejangkan tubuh perempuan berambut tebal itu. Tangan saya terasa sakit saat ia harus meremas. Saya berusaha membantu memberi kekuatan dan dukungan. Wah ini…. dasar ini orang ngantuk, makanya ngomongnya ngalor ngidul.
Satu hal yang ingin saya bagikan. Kami merasa bahwa anak ini membawa rejeki yang luar biasa bagi orang tuanya. Banyak jalan berkat yang dibukakan dan kemudahan yang terasakan membuat kami merasa senang untuk menyambut kelahirannya. Saya sempat cerita akan berkat ini kepada bapak. Seorang petani di ujung perbatasan antara kabupaten Jepara, Demak dan Kudus. “Pak, rejekine putumu ki gede” (Pak, berkatnya cucumu itu besar), kata saya sambil menuangkan teh poci. Sejurus kemudian saya menunjukan fakta-fakta empiris untuk mendukung pernyataan itu.
Sambil tersenyum sedikit, pria botak itu berkata : “Podo karo kowe”. (Sama dengan kamu). Sambil makan pisang bakar, beliau melanjutkan cerita pengalamannya tentang kelahiran saya. Pikiran kami bertemu di pematang sawah, sungai kering saat kemarau, banjir saat hujan dan barisan pepohonan di sepanjang jalan menuju kota.
Selesailah acara makan malam bersama dan kamipun pulang. Di perjalanan, tangan yang kuat khas petani menepuk pundak. Ada yang dikatakan bapak kepada saya…. tapi apa, saya tidak mendengar. Angin dan suara knalpot motor saya sudah mencuri pesan itu. “Apa pak ?”, kata saya supaya beliau bisa mengulangi perkataannya lagi.
Dengan suara yang lebih keras beliau berkata : “Mas, kowe kudu eling. Saben bocah kuwi nggowo rejekine dewe-dewe. Neng kudu ati-ati leh ngecakke. Ojo dianggo kesenengane wong tuwone amarga kuwi rejekine anak”. (Mas, kamu harus ingat. Setiap anak membawa berkahnya sendiri-sendiri. Tapi harus hati-hati dalam menggunakannya. Jangan dipakai untuk kesenangan orang tuanya karena itu miliknya anak).
Dalam perjalanan itu bapak melanjutkan cerita ketika saya lahir. Banyak petani yang panennya berhasil tapi tidak banyak yang menyadari bahwa itu adalah milik generasi yang kemudian. Saya bersyukur karena punya orang tua yang menyadari bahwa itu semua adalah berkat Tuhan bagi anak-anak. Orang tua saya tidak menggunakan untuk kesenangannya sendiri namun menjadi berkat sampai anak-anak besar bahkan kelak ketika mereka pergi.
Pelajaran sederhana yang menggugah hati. Kesadaran bahwa Tuhan senantiasa memberikan berkat bagi anak-anakNya. Ia menitipkan kepada orang tuanya supaya disampaikan kepada anak-anaknya. Setiap hal yang dititipkan tentulah harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan yang mempunyai berkat itu.
Kesalahan besar yang dilakukan oleh orang tua adalah mereka merasa bahwa berkat yang menyertai kehadiran seorang anak merupakan hasil dari jerih payah. Sehingga menjadi sembrono dalam menggunakan berkat tersebut untuk kesenangannya sendiri. Hal yang seperti ini menjadi cara yang kurang bertanggung jawab karena kalau berkat itu adalah milik anak maka setiap orang tua harus memberikan hak itu kepada anak-anaknya.
Teks Firman Tuhan dalam Mazmur 107:15, “Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia”. Mengingatkan kita bahwa Tuhanlah yang mengerjakan banyak karya, perbuatan-perbuatan ajaib serta barkat bagi anak-anak. Kita patut bersyukur kepada Tuhan dengan cara mengelola berkat itu dengan sebaik mungkin.
Oleh: Pendeta Sundoyo
GKJ Brayat KInasih, Yogyakarta
Pohon itu Meranggas…….

Siang itu terasa terik sekali, terasa lebih panas dari hari biasanya. Apakah ini karena saya haus dan lelah setelah perjalanan panjang dari Jogja, apalagi sepanjang perjalanan dari Jogjakarta ke Semarang harus berdiri. Ah….. inilah ritual setiap dua bulan sekali, pasti pulang untuk memastikan bahwa lumbung tetap terisi untuk bertahan hidup di negeri orang.
Dari Semarang, saya naik bus jurusan Jepara, saya turun di Welahan kemudian jalan kaki ke Desa Dorang, desa kecil di ujung selatan Kabupaten Jepara. Kaki yang masih terasa kencang harus diberi tugas lagi untuk membawa tubuh ini sampai di rumah.
Di bawah guyuran sinar terang matahari yang dibarengi dengan hawa panas yang membakar kulit coklat saya, pandangan saya dicuri oleh satu bentuk tumbuhan yang mengejutkan. Begitu mengejutkan karena pohon itu sama sekali tidak ada daunnya, kering, gersang dan gundul.
Bagi yang pertama kali melihat kemungkinan besar tidak terkejut karena saat itu memang musim kemarau, tapi bagi saya yang dua bulan sebelumnya melewati jalan itu terasa terkejut karena kondisi begitu kontras dengan kondisi sebelumnya.
Pohon besar itu sebelumnya begitu hijau dengan daunya yang lebat. Sangat gagah dilihat dan terasa hidup karena wibawa yang dipancarkan. Pohon besar itu juga menjadi pohon yang dituju oleh para petani untuk berteduh dari panasnya matahari maupun juga hujan yang mengguyur bumi.
Begitu indah untuk dilihat dan sangat berguna karena melindungi banyak orang. Tapi semua kesan itu hilang bersama dengan daun-daun yang gugur tertiup angin timur.
Saya terus mengamati pohon itu, mencari tahu kenapa bisa begitu. Sebuah pertanyaan yang mudah dijawab, hal itu terjadi karena musim kemarau yang terlalu panas. Pertanyaan yang lain muncul, apa yang bisa saya pelajari dari peristiwa alam ini. Setelah saya renungkan, inilah yang saya dapat sebagai pelajaran hidup:
1. Menggugurkan daun untuk bertahan hidup.
Setiap pohon akan bereaksi dengan lingkungannya untuk bisa bertahan hidup. Saat musim penghujan dengan kesediaan air yang cukup membuat pohon bisa mengembangkan batang, ranting dan daunya. Menumbuhkan tunas baru yang membuat pohon terlihat hijau, segar dan indah.
Namun saat musim kemarau menerjang dengan panas tinggi yang mencekam serta ketersediaan air yang menipis bahkan sulit membuat pohon harus merubah rencana. Ia tidak menumbuhkan tunas baru tapi menggugurkan daunya. Satu persatu gugur sampai gundul, satu persatu ranggas sampai meranggas. Dalam keadaan yang seperti ini sangat tidak indah untuk dilihat dan tidak bisa digunakan untuk berteduh. Tapi cara inilah yang harus ditempuh untuk bisa bertahan hidup.
Inilah cara hidup yang harus kita tiru. Saat kita punya banyak berkat dan bahkan berkelimpahan kita akan bisa mencukupi kebutuhan bahwa bisa manjadi tempat berteduh bagi banyak orang yang membutuhkan perlindungan kita. Kita akan dilihat orang lain sebagai sosok yang gagah, indah dan berwibawa.
Namun kita harus sadar bahwa kondisi tersebut tidak selalu terjadi, ada kalanya kita mengalami masa-masa yang sulit. Kondisi ekonomi yang terpuruk, kesulitan keuangan yang menjerat leher. Pada saat yang seperti ini kita harus meniru laku pohon itu. Kita harus berani menggugurkan semua keinginan kita, semua pengeluaran-pengeluaran yang bisa dipangkas. Kondisi yang seperti ini akan membuat kita tidak elok untuk dilihat, tidak berguna bagi orang lain, tidak bisa menjadi tempat untuk berteduh, namun inilah cara kita untuk tetap bertahan di masa yang sulit.
Bukankan kita sekarang ini sedang mengalami masa yang seperti ini, tingkat pengangguran tinggi, tingkat PHK semakin meningkat, pertumbuhan ekonomi yang tidak beranjak. Ini semua adalah musim kering, musim kemarau yang kita harap tidak panjang. Respon yang tepat supaya kita bisa bertahan hidup adalah dengan cara hidup berhemat. Kita harus mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan.
Kebutuhan adalah sesuatu yang kalau tidak ada akan menganggu kehidupan kita -urusannya hidup dan mati-. Kita harus berani memangkas semua keinginan-keinginan kita, akan terlihat tidak elok tapi menjadi cara untuk bertahan hidup.
2. Akarnya semakin menghujam.
Perilaku pohon sungguh luar biasa. Saat terjadi musim kemarau, pohon akan memerintahkan kepada akar untuk mencari air. Setelah mendapatkan madat itu maka akar akan segera menjalankan tugasnya dengan baik. Ia akan semakin ke kanan, ke kiri dan semakin ke dalam, mencari, mencari dan terus mencari air untuk mempertahankan hidup. Semakin dalam akar mencari sumber air maka semakin besar kemungkinan ia mendapatkannya. Disamping mendapatkan air, akar yang menjulur lebih dalam ini akan membuat pohon menjadi semakin kuat dan kokoh.
Ini juga prilaku yang perlu kita teladani. Saat kita mengalami masalah, kita harus semakin dalam. Semakin dalam untuk mencari sumber air kehidupan. Mencari kebenaran firman Tuhan untuk kekuatan hidup kita. Masalah harusnya membuat kita semakin saleh dan beriman, semakin bijaksana serta mengerti kehendak Tuhan. Inilah yang akan membuat iman dan kehidupan kita semakin kuat dan kokoh.
Disamping hal itu, kesulitan yang kita alami membuat kita menjadi semakin serius memikirkan kehidupan dan jalan keluar dari permasalahan itu. Proses mencari jalan keluar ini akan membuat kita menjadi semakin cerdas dan kreatif. Bukankan semua orang yang sukses adalah orang-orang yang berhasil keluar dari kesulitan yang dihadapi. Dengan ini kita akan mengatakan selamat datang kesulitan karena memberi kita kesempatan untuk semakin dewasa, kreatif dan cerdas.
Inilah pelajaran yang saya renungkan ketika melihat pohon yang meranggas. Tersadar sayau dari lamunan panjang ini, kaki saya sudah menyentuh rumput halaman di depan rumah. Sungguh menyenangkan bisa sampai di rumah dalam keadaan selamat dan punya kesempatan merenungkan kehidupan pemberi pelajaran yang mendalam. Semoga ini saya pegang sepanjang perjalanan pulang ke akhir kehidupan. Tuhan memberkati.
Oleh Pdt. Sundoyo
GKJ Brayat Kinasih