Home » Artikel (Page 24)

Category Archives: Artikel

Hukum Terbesar

(KLIK GAMBAR UNTUK MATERI SELENGKAPNYA)

Topi Saya Bundar


Topi saya bundar
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Itu bukan topi saya

Itulah syair lagu yang pertama diajarkan oleh istri saya kepada anak perempuan kami. Dengan gaya tangan dan gelengan kepala yang senantiasa sama serta ekspresi senyuman, membuat Bintang pasti tersenyum bahkan bisa ‘ngekek’ .  Tawa itu membuat ibunya semakin bersemangat untuk menyanyikannya lagi. Ditambah dengan penekanan suara, gerakan serta ekspresi membuat bayi yang masih hitungan bulan itu semakin terlihat lucu dan gembira.

Lagu ini juga menjadi andalan saya  untuk menarik perhatiannya. Saya akan bergaya seperti ibunya, benyanyi dengan ‘suara perak’ saya dan bergaya seperti seorang guru baru di kelasnya. Bersyukurlah karena semua usaha itu selalu berhasil menarik perhatian anak kecil yang sudah kami nantikan lebih dari empat setengah tahun.

Karena sering menyanyikan lagu itu, pikiran ini menjadi tidak pernah lepas dari lagu yang biasa dinyanyikan, dan sepertinya semua orang Indonesia juga bisa menyanyilan lagu ini. Sampai suatu sore saat duduk dan mendengar istri bernyanyi, membuat saya berfirkir bahwa lagu itu mengajarkan makna yang sangat dalam. Saya membayangkan bahwa topi itu banyak jenisnya, ada yang bundar, kotak, segi tiga, segi lima dan banyak bantuk yang lain. Sejak kecil kita belajar bernyanyi tentang mana yang menjadi milik kita.

Penggalan kata yang awal adalah ‘topi saya bundar’ dan  penegasan ‘bundar topi saya’. Syair kemudian dilanjutkan dengan pengakuan penting bahwa ‘kalau tidak bundar, itu bukan topi saya’. Kesadaran milik bahwa yang punya saya adalah yang ‘bundar’ jadi kalau ada topi yang tidak bundar itu milik orang lain dan pastinya bukan milik saya. Mari kita mengganti kata ‘topi’ dan ‘bundar’ dengan kata yang lain. ‘Topi’ menjadi wakil apa yang kita miliki sendangkan ‘bundar’ merupakan ciri khusus dari apa yang menjadi milik dan hak kita. Topi itu bisa kita ganti dengan istri atau suami, gaji dll. Mari menyanyikannya supaya kita mengingat mana yang menjadi milik dan hak kita.

Istri saya bisa bernyanyi seperti ini, ‘bojo saya botak, botak bojo saya. Kalau tidak botak bukan bojo saya’. Dia sadar bahwa bahwa banyak orang yang cakep, banyak rambutnya tapi suaminya adalah Sundoyo yang botak, jadi tidak perlu mencari laki-laki lain yang berambut tebal. Saya juga bisa membalas dengan nyanyian ini, ‘bojo saya bundar, bundar bojo saya, kalau tidak bundar bukan bojo saya’. Walaupun istri saya tidak ‘bundar’ tapi sudah cukup untuk memberikan candaan bersama bahwa kita tahu siapa pasangan kita dan apa yang menjadi cirinya sehingga tidak perlu menganggap orang lain yang mungkin lebih cakep atau lebih cantik menjadi pasangan kita.

Semoga banyak suami dan istri menyanyikan lagu ini. Bersenandung bersama, tertawa bersama dan merasakan energi kegembiraan bersama ditengah hangatnya ruang keluarga. Serta membara dikamar berdua.

Kita juga bisa menganti kata topi dengan kata gaji, kata bundar dengan menyebutkan jumlahnya dan kita bernyanyi bersama : ‘Gaji saya segini, segini gaji saya. Kalau tidak segini bukan gaji saya’. Kita tahu berapa yang mejadi hak dan milik kita, pendapatan yang sah yang memang menjadi milik kita. Apakah ini sulit untuk dilakukan ? Mungkin juga ya, karena kita punya banyak kesempatan mendapatkan apa yang melebihi hak kita dan sepertinya semua orang juga melakukannya. “Ah… masak saya kalah kaya dengan orang yang golongan III A”.

Lagu yang bisa sekali kita nyanyikan. Kita ajarkan kepada anak-anak kita dari generasi ke generasi, kemudian terlupakan saat kita pemuda dan dewasa, diganti dengan senandung kehidupan yang mengingkari nilai mendalam dari lagu yang membuat ceria disaat kita kanak-kanak. Sebuah pesan penting tentang tahu akan hak dan milik kita dan sadar bahwa memang banyak hal di kehidupan ini harus kita berikan atau biarkan diambil oleh mereka yang berhak memilikinya.

Seperti dalam Sabda Tuhan, Ijil Yohanes 3 : 14b, ‘Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu’. Hal ini juga senada dengan Sabda Tuhan yang terambil dari Surat Ibrani 13 : 5a, ‘Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu’.
Mari sekarang kita seluruh bangsa bernyanyi :
Topi saya bundar
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Itu bukan topi saya

Oleh : Pdt. Sundoyo
GKJ Brayat Kinasih

Lima Bahasa Cinta (3)

3. Bahasa cinta ketiga : Saling memberi hadiah
Hampir disemua daerah dan kebudayaan manusia, hal memberi hadiah adalah simbol bahasa cinta yang dikenal, orang bisa menyebutnya ‘pasok tukon’ , ‘mahar’ dll. Hadiah merupakan simbol visual dari cinta, pada sebagian upacara pernikahan terdapat acara memberi dan menerima cincin. Pemberian hadiah sebenarnya mewakili tentang perasaan mengingat orang yang diberi hadiah. Tidak peduli apakah hadiah itu memerlukan pengeluaran uang atau tidak, yang penting ialah bahwa kita memikirkan pasangan kita.

a. Hadiah dan uang.
Setiap kita punya persepsi tersendiri mengenai tujuan uang dan kita mempunyai bermacam emosi yang berhubungan dengan pengeluaran uang. Beberapa di antara kita punya pembawaan boros. Kita merasa bahagia apabila kita menghambur-hamburkan uang. Beberapa lagi di antara kita punya perspektif menabung dan menginvestasikan uang. Kita merasa bahagia apabila kita menabung dan menginvestasikan dengan baik.
Jika tipe orang yang pemboros maka tidak akan mengalami kesulitan untuk membeli hadiah bagi pasangan. Namun bagi mereka yang termasuk tipe penabung akan menimbulkan persoalan dengan pembelian hadiah. Kenapa harus membeli sesuatu untuk pasangan sedangkan untuk diri sendiri saja tidak membeli apa-apa. Tetapi sikap seperti ini sebenarnya tidak mengakui bahwa kita sedang membeli ‘barang’ untuk diri sendiri. Dengan menabung maka kita akan memperoleh ‘barang’ yang disebut kebahagiaan dan kemapanan emosional. Kita peduli dengan kebutuhan emosional kita dan tentunya kita juga peduli pada kebutuhan emosional pasangan dengan memberinya hadiah-hadiah.

b. Pemberian diri.
Pemberian sering dihubungkan dengan pemberian hadiah-hadiah berupa barang namun pemberian yang jauh lebih mendalam adalah pemberian diri. Yang dimaksudkan adalah memberikan diri untuk ada bersama dengan pasangan saat ia membutuhkan kehadiran kita. Ini sebuah penegasan bahwa pasangan kita jauh lebih penting dari kebiasaan dan hobby kita. Bahkan disaat-saat yang penting dan krisis, ketika pasangan membutuhkan kita, kehadiran kita disampingnya jauh lebih penting dari pada pekerjaan kita.

4. Bahasa cinta keempat: Saling melayani
Tuhan Yesus memberi teladan yang luar biasa dalam pelayanan, hal ini dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika Ia membasuh kaki para murid. Ia bersabda, kalau seseorang mau menjadi pemimpin ia harus menjadi pelayan bagi saudaranya. Dalam bahasa cinta pelayanan yang menjadi pusat penting adalah melakukan hal-hal yang kita tahu pasangan kita ingin supaya kita mengerjakannya.

Bagi kita yang mengharapkan pasangan melakukan pekerjaan tertentu kita mengunakan kata-kata yang ramah dan memohon bukan dengan kata-kata kecaman dan ancaman. Kita mungkin bisa menggunakan kecaman untuk menggerakkan pasangan kita melakukan sesuatu namun ini bukan ungkapan cinta. Namun kalau kita mendengar kecaman dari pasangan, sesungguhnya itu menolong kita untuk mengenal bahasa cinta primernya. Orang cenderung mengecam pasangan dalam hal-hal yang mereka sendiri butuhkan secara emosional.

Perjalanan kehidupan suami istri mengalami berbagai macam situasi. Adakalanya satu orang sehat dan yang lainya sakit. Dalam kondisi yang seperti inilah, bahasa cinta ‘saling melayani’ semakin kuat dan terasa. Saat-saat kita lemah dan sakit ada pasangan yang menyiapkan makanan, memandikan kita, mencuci pakaian dll. Hal-hal yang seperti akan meneguhkan perasaan bahwa kita dicintai.

5. Bahasa cinta kelima: Lewat sentuhan fisik
Kita sudah lama mengetahui bahwa sentuhan fisik merupakan cara menyampaikan emosi cinta. Banyak sekali proyek penelitian mengenai perkembangan anak. Dapat disimpulkan bahwa bayi-bayi yang dipegang, dipeluk, digendong, dicium mengembangkan kehidupan emosional yang lebih sehat dari pada bayi-bayi yang ditinggalkan untuk waktu lama tanpa sentuhan fisik. Tuhan Yesus memberi teladan kepada kita ketika Ia memeluk anak-anak dan terjadi sentuhan fisik dengan mereka.

Sentuhan fisik merupakan wahana yang sangat luar biasa untuk menyampaikan cinta dalam perkawinan. Saling berpegangan tangan, mencium, memeluk dan hubungan badan. Semua itu merupakan cara menyampaikan emosi cinta kepada pasangan kita. Diawal-awal pernikahan sungguh terasa indah dan menyenangkan namun sering menjadi hambar setelah beberapa tahun menikah terutama setelah kelahiran anak yang pertama.

Suami mengeluh karena istrinya tidak seromantis dulu, kalau terjadi hubungan badan yang sajikan hanya seperlunya saja. Istri juga mengeluh karena merasa suaminya hanya memikirkan soal hubungan badan dan bukan sentuhan fisik yang mesra dan hangat. Kalau habis hubungan badan langsung membalikan badan dan sebentar kemudian mendengkur, tidak ada kata-kata mesra dan saling membelai.

Berpelukan juga menjadi bahasa cinta yang efektif. Hampir secara naluriah dalam saat krisis, kita saling berpelukan. Mengapa? Karena sentuhan fisik merupakan komunikator cinta yang paling kuat. Di saat krisis, lebih dari apapun, kita perlu merasa bahwa kita dicintai. Kita tidak  bisa selalu merubah kejadian tetapi kita bisa mengatasinya jika kita merasa dicintai. Jika bahasa primer pasangan pasangan anda adalah sentuhan fisik, tidak ada yang lebih penting dari pada memeluknya sementara ia menangis.

Dalam soal perselingkuhan, nyeri emosional menusuk sangat dalam sekali dan keintiman akan menguap jika tahu bahwa pasangan terlibat secara seksual dengan orang lain. Tangki emosi cintanya bukan hanya kosong; tangki itu sudah dihancurkan oleh satu ledakan. Perbaikan besar-besaran harus diupayakan supaya kebutuhan emosional itu dapat dipenuhi kembali.

 

Oleh Pdt. Sundoyo
GKJ Brayat Kinasih