Home » Artikel (Page 23)

Category Archives: Artikel

Kasih yang Sejati

Pendahuluan.

Pada kesempatan ini, penulis akan membahas topik tentang Kasih Yang Sejati dengan menggunakan pintu masuk dari syair lagu dari Jonathan Prawira. Lirik lagu tersebut berbunyi :

KASIH SEJATI (by: Jonathan Prawira)

Kau t’lah memberi

Terlebih dari yang kusadari

Karena ku melihat apa di depan mata

Namun Engkau sanggup

Melihat jauh ke dalam hati

Kau mengajarku

Satu yang dulu tak kupahami

Bahwa yang terbaik di dalam dunia ini

Telah sejak lama kumiliki

Reff: Kasih yang sejati lahir dari relung hati

Yang tiada ingin memiliki

Namun selalu membagi

Kasih yang sejati tumbuh dari dasar jiwa

Yang tiada selalu meminta

Namun selalu percaya

Penulis akan menggunakan sudut pandang sejarah keselamatan untuk melihat bagian per bagian dari lirik lagu diatas. Diharapkan kita dapat belajar tentang topik kasih sejati dari proses berpikir yang dilakukan.

Pembahasan.

Kasih memberi melebihi yang kusadari.

Penulis menghayati frase kalimat ini dengan menggingat kembali peristiwa Adam dan Hawa di taman Eden. Mereka bukanlah orang yang kekurangan makan. Semua buah dari pohon di taman boleh dimakan, kecuali satu dari pohon terlarang. Ada 99,99 % boleh dimakan dan hanya 0,01 % yang tidak boleh dimana. Toh akhirnya mereka memakan buah itu, bukan karena alasan lapar,  tetapi karena ‘penasaran’, menarik secara visual, menggoda secara batin karena manfaat yang akan diperoleh jika makan buah tersebut.

Dosa pun terjadi. Manusia kehilangan kemuliaan tubuh yang sesupa dengan Allah. Sekarang mereka telanjang dan memang sebelumnya toh tidak berpakaian. Tubuh yang serupa itu mulia dan memancarkan cahaya kemuliaan Tuhan. Sekarang tubuh mereka terasa hina dan memalukan. Mereka membuat cawat dan baju dari daun. Sungguh tindakan yang seadanya untuk mengurangi resiko dosa, dan ini tentu bisa menimbulkan kerepotan lain karena pakaian yang kurang nyaman dan punya potensi untuk terasa gatal karena berbagai alasan.

Dalam hal ini, soal jasmani manusia, soal pakaian manusia. Tuhan mengerjakan dengan cara yang luar biasa. Tuhan mengambil binatang, mengorbankan binatang, Ia membuat pakaian dari kulit binatang. Tuhan berperan menjadi tukang penyamak kulit, Tuhan mengukur badan mereka dan Tuhan menjahit jaket mereka dengan tanganNya sendiri. Tuhan bersedia direpotkan karena prilaku manusia yang berdosa.

Hal diatas juga berlaku sepanjang sejarah kehidupan manusia, termasuk kita didalamnya. Tuhan bersedia ‘direpotkan’ (memberi lebih dari yang disadari) dengan membebaskan umat Israel dari tanah Mesir. Tuhan bersedia direpotkan dengan harus menjadi Manusia untuk merasakan segala kesusahan fisik dalam pribadi Tuhan Yesus. Tuhan bersedia ‘direpotkan’ dengan segala kelakukan kita yang membuat dosa dan kesalahan.

Tuhan tahu jauh ke dalam hati.

Frase kalimat diatas berada dalam konteks ; manusia melihat apa yang ada di depan mata, tetapi Tuhan melihat hal terdalam dalam hati. Manusia hanya mengenali apa yang terjadi dalam hidupnya dalam sebutan waktu ‘sekarang’. Manusia masih bisa balajar dari peristiwa yang sudah dilalui dimasa lalu, tetapi manusia tidak mampu melihat apa yang terjadi dalam sebutan waktu ‘masa depan’. Manusia memberikan penilaian atas kejadian sekarang tanpa mampu melihat keseluruhan cerita. Tentu ini penilaian yang sangat mungkin mendekati kesalahan. Peristiwa tidak boleh dinilai baik atau buruk dalam kacamata ‘sekarang’ saja karena hidup adalah rangkaian cerita dari masa lalu, sekarang dan akan datang.

Tuhan tahu dari semua masa, baik masa lalu, sekarang dan akan datang. Tuhan tidak hanya sekedar tahu tetapi Ia sedang menganyam cerita bersama dengan kita untuk suatu cerita kebaikan. Inilah yang membuat Yusuf mampu mengasihi dan mengampuni saudaranya. Mereka sudah membuang, membuatnya jadi budak, menghantarkannya menjadi budak yang dipenjara. Semua rangkaian cerita duka berpuluh-puluh tahun dalam ‘kacamata’ hidup buruk dan menderita. Namun sampai akhirnya ia ditempatkan Tuhan di istana, seorang Perdana Menteri dinegara adidaya. Saat ia punya kuasa untuk menghilangkan nyawa karena kuasa, semua saudaranya datang meminta iba. Mereka bersimpuh mencium kakinya, dan memohon ampun atas kesalahan mereka. Yusuf berkata dengan suara ‘kamu mereka-rekakan yang jahat tetapi Tuhan sangggup membuatnya jadi baik buat kita semua’.

Ini pula yang membuat protes penulis kepada Tuhan berhenti dikala penulis merasa Tuhan tidak adil memperlakukan Musa. Pemimpin besar umat Israel, memimpin kurang lebih  2,4 juta orang keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian. Ia memimpin umatnya dengan mengorbankan keluarganya, meninggalkan istri dan anaknya. Hidup sebagai pemimpin tanpa tunjangan cuti, jaminan BPJS, pensiun dan jaminan rumah emiritus. Ia mengorbankan segalanya untuk Tuhan yang ia taati. Menuntun umatnya selama kurang lebih 40 tahun lamanya, ia tidak mengambil rute yang singkat (400 km berjalan kaki) karena akan langsung berhadapan dengan bangsa bangsa besar yang bisa menghancurkan mereka. Musa mengalami banyak tekanan karena prilaku umatnya yang keras kepala. Ia korbankan semuanya untuk Tuhan, umat dan bangsanya.

Dari semuanya itu, bagian akhir cerita. Ia tidak boleh memasuki tahah Kanaan. Ia hanya melihat tanpa boleh mencicipi kenikmatan dari ujung perjuangan hidup dan imannya. Sugguh keputusan Tuhan yang tidak adil menurut penulis. Ini menggelisahkan penulis dengan membayangkan bahwa penulis memerankan diri sebagai Musa. Sungguh tidak adil dan kejam, Tuhan berlaku tidak adil dan kejam. Sampai akhirnya ada seorang teman yang baru pulang studi dari Israel. Penulispun menyampaikan kegelisahan dan kemarahan hati kepada beliau. Penulis bertanya : kenapa Tuhan tidak baik kepada Musa? Kenapa Tuhan tidak adil kepada Musa? Kenapa Musa tidak boleh menikmati hasil perjuangannya?

Dengan cara khas Yahudi, yaitu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Ia pun merespon, menurutmu apa yang adil ? apa yang baik buat Musa? Dengan cepat penulis menjawab ya pasti pensiun di Kanaan. Menikmati hari tua yang indah dan bangga di pusat kota Kanaan. Iapun melanjutkan dengan bertanya, kira kira hal buruk apa yang akan terjadi pada Musa kalau di ada di Kanaan, berkait dengan ego dan kebanggan dirinya? Penulis tidak menjawab, tetapi banyak hal yang berkecamuk di hati, bisa saja Musa menjadi kalap akan kekuasaan, ia jadi raja, hari lahirnya menjadi hari libur nasional, jalan-jalan besar diberi nama jalan Musa, di perempatan akan didirikan patung Musa yang besar. Kemudian dengan senyap penulis memikirkan bahwa tidak masuk tanah Kanaan menjadi lebih baik dari pada Musa masuk tanah perjanjian itu.

Manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat keseluruhan cerita. Ini yang akan membuat kita mampu mencintai sejarah kehidupan kita sebagai rangkaian cerita terbaik yang disusun Tuhan bagi umatnya.

Hal terbaik dalam dunia.

Semua orang tentu punya kriteria tentang apa yang terbaik bagi dirinya, hal-hal apa yang berharga dalam hidupnya. Ada orang yang berpadangan bahwa yang terbaik bagi dirinya adalah bisa jalan-jalan keliling dunia. Ada juga yang beranggapan bahwa yang terbaik adalah mampu mengumpulkan harta dan meninggalkannya bagi 7 generasi sesudahnya. Ada orang yang menganggap yang terbaik adalah pendidikan setinggi mungkin sehingga mampu berkarya bagi sesama, dll.

Berkait dengan ini, penulis mengusulkan untuk kembali pada peristiwa Tuhan menciptakan manusia. Ia menciptakan manusia dan menempatkan di taman Eden, taman keindahan yang penuh damai sejahtera. Ia memberikan semua yang terbaik dan terindah bagi manusia. Tuhan merancang manusia untuk abadi dalam keindahan dan damai itu. Tetapi prilaku manusia merusak semuanya itu, kesalahan manusialah yang menyebabkan manusia terhepas dari rancangan indah itu.

Tuhan memberikan sabda bahwa semua buah dari pohon ditaman boleh dimakan, kecuali buah dari pohon Pengetahuan Yang Baik dan Yang Jahat.  Tetapi setelah mereka melanggar perintah itu maka Tuhan memberikan perintah baru bahwa buah dari Pohon Kehidupan tidak boleh dimakan dan harus dijaga oleh malaikat dengan pedang petirnya yang menyala-nyala. Sebelum manusia melanggar hukum, manusia boleh makan buah dari Pohon Kehidupan, karena memang rancangan Tuhan bahwa manusia akan hidup kekal di Eden. Tetapi rencana itu sudah diremukan oleh prilaku manusia. Tidak hanya sekedar manusia mengalami kematian, tetapi manusia juga diusir dari taman Eden. Manusia mati dan matinya diluar rahmat dan damai sejahteranya Tuhan.

Hal terpenting dan terbaik bagi Tuhan adalah mengembalikan rancanganNya bagi manusia. Hal terbaik bagi Tuhan dalam membuat manusia kembali tinggal di taman Eden dalam damai selamanya. Untuk maksud yang indah ini tidak mungkin mengandalkan manusia untuk mencapai Eden. Manusia sudah berdosa dan terus berada dalam cengraman dosa itu. Tuhan sudah pernah menghukum dengan memusnakan semua manusia, Ia memilih Nuh dan keluarganya sebagai keluarga terbaik di muka bumi. Tentu diharapkan dari keluarga terbaik ini akan menghadirkan keturunan yang baik pula. Tetapi kenyataanya tidak, manusia tetap berdosa dan bahkan melawan Tuhan dengan berusaha mendirikan menara yang tingginya sampai ke surga. Mereka berusaha untuk mencapai surga dengan bangunan menara, mau mengalahkan hukum dan melawan perintah Tuhan. Tuhan mau mengajarkan kepada kita bahwa hukuman tidak pernah bisa menyelesaikan dosa. Hukuman tidak pernah bisa mengubah orang untuk berubah.

Tuhan memilih jalan lain. Ia memilih orang pilihan, memilih bangsa pilihan sebagai alat untuk karyaNya. Tetapi bangsa pilihan telah gagal karena mereka juga tetap menjadi bangsa yang penuh dengan dosa dan kejahatan. Bahkan merasa sebagai bangsa pilihan membuat mereka merasa menjadi bangsa eksklusif dan gagal menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Tuhan gagal dimengerti sebagai Tuhan yang mencintai semua bangsa. Dalam hal umat pilihanpun, dosa tidak bisa dihilangkan.

Karya keselamatan ini harus ditempuh dengan cara menghancurkan belenggu dosa. Dosa harus ditebus, seperti binatang yang dikorbankan untuk membuat pakian bagi Adam dan Hawa demikian juga dosa harus hancurkan dengan adanya korban tebusan. Tebusan membutuhukan korban dan korban itu harus pihak yang tidak berdosa dan memiliki nilai lebih besar dari pada seluruh umat manusia. Siapa yang bisa dikorbankan, tentu tidak mungkin manusia karena manusia yang membutuhkan tebusan. Dan kemungkinan hanya satu, yaitu Tuhan sendiri. Hanya Tuhan yang tidak punya dosa dan hanya Tuhan yang punya nilai lebih besar dari manusia.

Hadirlah Yesus bagi manusia. Sang Tuhan yang mengambil rupa manusia sehinga kematianNya dikayu salib punya daya penebusan. KehadiranNya menjadi jalan bagi keselamatan. Salib yang menjulang menjadi menara yang ujungnya sampai ke surga. Rancangan semula Tuhan bagi manusia sudah dipulihkan dengan tebusan darah Kritus dibukit Golgota. Ia mengerjakan yang terbaik dan terpenting bagi kehidupan manusia. Ini juga yang seharunya kita sadari bahwa bagian yang terbaik dan terpenting itu sudah diberikan kepada manusa. Kita memiliki passport kerjaan Allah dengan status naturalisasi, hanya karena kemurahanNya saja yang memuat itu terjadi. Kita punya hak untuk tinggal di Eden tanpa batas waktu.

Yang terbaik sudah Tuhan kerjakan buat kita. Semua yang ada didunia menjadi pernik-pernik kecil dalam perjalanan menuju keabadian. Harta, cinta, tahta dan bangga menjadi alat bagi sempurnanya cinta Tuhan buat kita dan sesama. Yang terbaik sudah memenuhi seluruh ruang hati kita, sehingga kita terasa tenggalam dalam air bah kasih karunia.

Kasih sejati lahir dari dalam hati.

Hati kita sudah dipenuhi oleh air bah cintaNya. Tidak ada lagi ruang yang kosong untuk coba kita isi dengan kebanggaan-kebanggaan manusiawi.  Semua pencapaian dan kebanggaan itu mengapung diatas air cintaNya. Semua kebangaan dan kebahagiaan itu akan datang dan pergi.  Itu semua tidak membuat kita terlena dikala suka dan tidak lagi melukai diwaktu pergi. Kita akan mampu mengalirkan cinta bagi sesama.

Kalaupun orang melemparkan sampah ke hati kita, itupun juga akan mengapung diatas hemparan samudera cinta. Hempasan benda itu tidak akan melukai dasar hati kita, ia akan masuk sebentar dan kemudian akan mengapung diatas air cintaNya. Tetapi mungkin saja akan ada benda berat yang mencapai dasar hati kita. Itu menimbulkan luka dan perih yang tak terkira. Biarkan saja benda itu disana, akui saja dan tetap biarkan cintaNya membalut hati kita dan daya cinta itu akan membuat benda asing itu menjadi tempat bertumbuhnya kehidupan dan suplai makanan bagi pengampunan.

Kesimpulan.

Kasih sejati hanya dapat diraskaan dalam perjumpaan kita dengan Tuhan dalam karya keselamatanNya. KasihNya yang menjadi energi kita untuk dapat mengasihi diri sendiri dan sesama. Hanya karena pengampunanNya kita memiliki energi untuk mengampuni sesama kita. Biarkan diri kita terbenam dalam kasihNya yang besar supaya kita bisa hidup dan memberi diri bagi karya Tuhan untuk dunia.

Oleh: Pendeta Sundoyo
GKJ Brayat Kinasih

Buah Nanas

Seorang dokter berangkat dari Eropa ke pedalaman di Afrika, ia datang dengan niat mulia untuk memberikan pelayanan kesehatan secara gratis kepada penduduk terpencil. Ia berangkat bersama dengan keluarganya. Di tempat yang dituju, ia mendirikan klinik kesehatan dan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Setelah beberapa bulan di sana, ia kangen dengan buah kesukaannya yaitu nanas. Karena tidak menemukan buah nanas di daerah itu maka ia putuskan untuk pergi ke luar daerah dan mencari bibit nanas.

Setelah mendapatkan bibit nanas, ia meminta seseorang dari kampung itu untuk menanam dan merawat pohon nanas. Tiga tahun terasa begitu lama, menunggu pohon nanas itu berbuah untuk pertama kalinya. Sambil berbaring di tempat tidur, ia melamun dan membayangkan betapa segar buah nanas yang akan ia panen besok. Terbangun ia dari mimpi nikmat itu dan pagi mulai menggunting gelapnya malam. Ia bangun dan berjalan cepat ke dapur untuk mengambil pisau. “Segar sekali rasanya, bau segar nanas terasa sekali”, gumamnya sambil meluncur ke kebun nanas di belalang rumah.

Matanya melotot, tangannya terus digerakkan menyusuri tiap jengkal pohon nanas di kebun itu, ia berhenti dan sudah hampir 90% wilayah kebun itu tersapu, tetapi ia tidak menemukan buah nanas yang dicarinya. Sambil berlari kecil ia segera menyelesaikan penjelajahan itu dan hasilnya kekecewaan. Semua nanasnya hilang dan setiap batang yang menyangga buah nanas telah terpotong benda tajam. Ia sangat kecewa dan begitu marah, semua kemarahan itu hanya tertuju pada orang-orang kampung yang selama ini ia layani. “Siapa lagi … siapa lagi tidak ada orang lain di kawasan tepian hutan ini. Mereka betul-betul keterlaluan”, gumamnya sambil menusukkan pisau ke batang pohon.

Karena marah, maka ia putuskan untuk menutup kliniknya. Semua orang yang datang karena sakit, tidak ia pedulikan. Kejadian ini berlangsung hampir satu minggu. Selama itu juga setiap malam ia tidak bisa tidur, ia selalu terngiang suara bayi menangis karena sakit, rintihan perempuan tua menahan sakit kepalanya. Kemarahan masih menutup hatinya, namun ia putuskan untuk membuka kembali kliniknya dengan perjanjian bahwa nanas tidak boleh dicuri. Panen berikutnyapun segera tiba, dan sekali lagi ia dibuat sangat marah. Mereka mengambil kembali buah nanas.

Dalam campur aduk perasaan marahnya, ia berusaha berdamai dengan dirinya sendiri. Ia membaca bagian dari kitab suci dan ia menemukan makna penting soal peristiwa yang sedang ia alami. Ia menemukan cara berpikir yang baru, ia menemukan kesadaran bahwa semua yang ada itu punya Tuhan. Bibit itu punya Tuhan, walaupun manusia bisa membeli tetapi manusia tidak bisa membuat bibit itu sendiri, bibit itu ditanam di tanah yang sesungguhnya adalah milik Tuhan, pohon nanas itu disiram, dirawat dan diberi pupuk tetapi pertumbuhan daun, batang serta buahnya hanya Tuhan yang berkuasa memberikannya. Semuanya punya Tuhan dan kalau ada orang yang mengambil maka sesungguhnya mereka mengambil punya Tuhan. Kalau mereka mengambil punya Tuhan, jadi tidak ada alasan untuk menjadi marah.

Setelah pencerahan itu terjadi sikapnya berubah, ia tidak lagi marah dan bahkan sambil bergurau ia berkata kepada orang-orang kampung, “Teman-teman, sebentar lagi buah nanas akan matang dan siap dipanen. Besok malam kalau mau mengambil buah nanas, aku diajak ya! Atau kalau agak repot kita panen di waktu malam akan lebih baik jika kita panen di siang hari saja”. Masa panenpun tiba, dokter dan orang kampung larut dalam kebahagiaan pesta panen nanas. Sungguh membahagiakan. Demikialah penggalan cerita dari buku : ‘the pineapple’s story’.

Penghayatan soal milik ini juga bisa kita rasakan pada saat Yesus berjalan masuk ke Yerusalam. “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah ke mari. Dan jika ada orang mengatakan kepadamu ; mengapa kamu lakukan itu, jawablah : Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya ke sini”, kata Yesus kepada muridNya.

Penggalan kalimat yang menceritakan perjalanan Yesus saat mau masuk ke Yerusalem, Ia akan melintasi lereng dan berjalan di jalan utama menuju kota pusat ibadah, pemerintahan dan kota simbol kejayaan. Ia meminta pengikutnya untuk mengambil seekor keledai yang belum pernah ditunggangi dan seandainya ada orang yang menegur karena para murid itu mengambil keledai maka jawaban yang harus mereka sampaikan adalah Tuhan memerlukannya. Kata Tuhan diterjemahkan dari kata ho kurios (‘dia yang berkuasa atau penguasa), bisa diterjemahkan dengan kata lain yaitu ‘Pemilik’. Kata ini mau menunjukkan bahwa Tuhan yang empunya segala sesuatu. Kalimat itu dilanjutkan dengan kalimat : “Ia akan segera mengembalikannya”.

Mari kita belajar sesuatu, mengingat semua kemarahan yang pernah terjadi dalam hidup kita. Kita marah karena kita merasa ada orang lain yang merampas hak kita. Saya marah dengan orang yang memaki saya, kita marah karena kita merasa punya hak untuk dihormati. Kata kunci untuk keluar dari kemarahan adalah pelepasan segala sesuatu yang kita anggap sebagai hak kita. Seandainya saya marah  pada orang yang mencaci saya karena saya merasa punya hak untuk dihormati maka sekarang sebagai jalan keluar dari kemarahan itu adalah melepaskan hak dihormati itu kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang punya hak untuk dihormati. Melepaskan kepemilikan menjadi jalan keluar bagi penyelesaian kemarahan.

Hal lain, kalau kita melihat kata ho kurios (penguasa) memiliki hak untuk menggunakan kekuasaanya, mengambil apa yang ia butuhkan dari orang lain namun kalimatnya tidaklah berbenti. Kalimatnya berlanjut : ‘ia akan segera mengembalikannya’. Rumusan kalimat yang harusnya juga terjadi dalam kehidupan kita di keluarga. Orang tua memiliki otoritas atas anak-anaknya, orang tua berhak meminta rasa hormat dari anak-anaknya tetapi ia juga harus menghormati anak-anak dalam wujuk kasih sayang dan teladan hidup. Demikian juga halnya kehidupan kita berbangsa, ada kekuasaan yang dimiliki oleh rakyat dan memberikan kekuasaan itu kepada pemerintah dan hal yang harus dilanjutkan dari kalimat itu adalah pemerintah harus menggunakan kekuasaannya demi masyarakat.

Semua kepemilikan adalah kepunyaan Tuhan. Semua kekuasaan adalah pemberianNya. Kepemilikan atas kekuasaan sudah seharuanya berguna dan bermanfaat bagi seluruh ciptaanNya.

Oleh : Pdt. Sundoyo
GKJ Brayat Kinasih

Kesempurnaan Cinta

Papa saya seorang pendeta, dan satu ketika Papa dipercaya menjadi ketua wilayah (untuk wilayah halmahera timur).  Mungkin bagi orang lain sebuah jabatan menjadi hal yang membanggakan,  tapi tidak bagi saya,  karena saya tahu bahwa dengan tanggung jawab yang besar itu akan membuat kami jarang berte.  Mengapa demikian?  Karena jarak tempuh medan pelayanan yang jauh, serta Papa yang hanya bermodalkan sebuah sepeda butut dan uang jalan yang di tanggung sendiri (pada waktu itu). Sering terjadi,  Papa pamitan pada bulan januari, dan akan bertemu lagi di bulan maret, seminggu di rumah dan setelah itu akan melanjutkan perjalannya.

Ketika Papa pulang,  akan menjadi hari yang membahagiakan untuk saya dan kedua kakak saya. Tapi kami sadar bahwa kebahagiaan itu tidak akan lama,  setelah beberapa hari di rumah,  sudah wajib hukumnya Papa harus pergi lagi. Semakin lama Papa di rumah,  maka akan semakin lama juga Papa pergi nantinya.

Momen makan dengan keluarga lengkap sangat asing bagi kami. Kehidupan seperti ini kami jalani kurang lebih selama 7 tahun.

Saat itu saya berpikir bahwa Papa hanya menyayangi orang lain tidak untuk keluarganya sendiri.

Setelah dewasa saya pun masuk sekolah teologi,  sekolah yang nantinya akan membuat saya seperti Papa yang sukanya meninggalkan keluarga.  Kebetulan dalam satu mata kuliah kami ditugaskan menanyakan tentang kehidupan keluarga di masa lalu.  Saya baru sadar betapa berharganya pelayanan yang Papa lakukan dan berikan untuk saya.

Papa pelayanan di gereje-gereja kecil di pelosok Halmahera Timur,  Papa bisa melayani di sebuah gereja pagi ini dan setelah itu akan melanjutkan perjalanan ke gereja lainnya dengan jarak tempuh yang sangat-sangat jauh. Apabila malam tiba, dan Papa masih di perjalanan maka Papa akan menyiapkan perlengkapan tidurnya  (sebuah selimut tipis untuk alas dan jaket sebagai bantal)  dan Papa akan tidur di mana saja (di hutan, di dekat pantai, atau di manapun).

Setelah pagi,  Papa kembali melanjutkan perjalanannya pergi ke gereja selanjutnya mengendarai sepeda bututnya,  (tapi bisa juga jalan kaki sambil menuntun sepedanya karena sepedanya bermasalah). Ketika sampai di tempat tujuan, di beberapa gereja Papa akan melayani sendiri,  karena jemaat tersebut  tidak bisa baca maka mereka tidak berani dipilih menjadi majelis.

Saya kemudian bertanya,  apa alasan Papa melakukan itu semua? Kan bisa juga menjadi pendeta yang tidak ‘menderita’  melayani yang sepantasnya?

Jawabannya : Papa tidak punya apa-apa untuk diberikan pada keluarga,  anak-anak Papa dan cucu-cucu Papa nantinya,  yang bisa Papa berikan dan tinggalkan hanya sebuah pengalaman dan bakti Papa saat melayani,  sehingga harapan Papa,  ‘harta’  yang Papa tinggalkan ini dapat dipakai untuk anak-cucu Papa dikemudian hari ketika mereka sudah masuk dalam dunia pelayanan. Dan Papa tahu sejak kecil ada satu anak Papa yang juga berkeinginan menjadi pendeta,  maka sudah menjadi tugas Papa untuk mengajarkan bahwa menjadi pendeta adalah “melayani”  hanya itu saja tidak ada yang lain.

Saya yakin para orang tua yang juga sedang membaca tulisan ini memiliki pemikiran yang sama,  bahwa pekerjaan yang mereka lakukan saat ini adalah untuk anak mereka, itulah bukti sebuah cinta yang mungkin sederhana tapi penuh dengan pengorbanan.

Saya akan tutup tulisan ini dengan sebuah lagu :

“kasih itu lemah lembut, Sabar,  sederhana..

Kasih itu murah hati, Rela menderita.”

Selamat melayani para orangtua-orangtua di luar sana,  kalian luar biasa bagi keluargamu.

 

Tulisan dari : Mike Makahenggang, M.Si.