Lima Bahasa Cinta (1)

Ada dua pasang mata yang bulat bersinar, rambu dihiasi dengan macam bunga membuat mereka nampak serasi. Bau harum merata disetiap lekuk dan ujung ruangan gedung gereja. Sepasang pengantin menghadap Tuhan memohon berkat bagi keluarga. Inilah pemandangan yang banyak terjadi di hari-hari ini. “Iya pak, saya menikah sekarang karena persiapan musim penghujan”, kata pemuda disertai tawa saat ditanya kenapa menikah.
Yang menjadi masalah adalah kebahagiaan saat menikah kemudian disusul dengan masalah hidup yang menyulitkan. Senyuman berubah menjadi tangisan, pujian digantikan dengan umpatan dll. Mereka masih saling mencintai namun ada penghalang dalam berkomunikasi. Untuk bisa belajar komunikasi di tengah keluarga secara efektif, kita akan belajar dari satu buku yang ditulis oleh Gary Chapman Ph.D dengan judul ‘Lima Bahasa Kasih’. Buku ini diterbitkan oleh Profrssional Books tahun 1997. Dari buku ini juga memberikan banyak sekali pengertian dan wawasan baru untuk saling meneguhkan perasaan cinta setiap pasangan dan juga bisa diterapkan untuk relasi antara orang tua dan anak.
Lima Bahasa Cinta
a. Menjaga agar tangki kasih selalu penuh
Banyak pasangan yang mengalami persoalan hubungan dengan pasangan setelah mereka menikah. Bayangan indah selama pacaran dan pengalaman ‘jatuh cinta’ menjadi hilang dan digantikan dengan persoalan-persoalan yang silih berganti.
Dr. Dorothy Tennov, seorang psikolog telah melakukan studi jangka panjang mengenai fenomena jatuh cinta ini. Setelah mempelajari puluhan pasangan, ia menyimpulkan bahwa daya tahan rata-rata dari obsesi romantis hanyalah dua tahun. Bagaimanapun, akhirnya kita turun dari awang-awang dan menapakkan kedua kaki kita di bumi lagi. Kedua mata kita terbuka dan kita melihat jerawat-jerawat yang ada pada kekasih idaman kita. Kita menyadari bahwa beberapa sifat personalitasnya sebenarnya menjengkelkan.
Pola-pola tingkah lakunya menyebalkan. Ia memiliki kemampuan untuk melukai perasaan dan marah. Bahkan bisa mengeluarkan kata-kata kasar dan mencela. Sifat-sifat kecil ini, kita kesampingkan waktu kita jatuh cinta dan sekarang menjadi gunung-gunung besar yang menghalangi pandangan kita.
Selamat datang didunia nyata pernikahan, dimana rambut-rambut selalu ada di tempar cuci piring.
Muncul perdebatan berkisar bagaimana seharusnya memegang pasta gigi, menaruh gayung setelah mandi. Ini dunia dimana sepatu-sepatu tidak bisa berjalan sendiri ke rak sepatu, baju kotor tidak bisa berjalan dan berkumpul di ember tempat baju kotor lainnya. Dalam dunia ini, satu tatapan bisa melukai dan sepatah kata bisa meremukkan. Para kekasih yang intim bisa berubah menjadi musuh dan perkawinan menjadi medan pertempuran.
Seumpama kendaraan, semula bisa berjalan dengan kecepatan tinggi dan bisa membawa kemanapun yang diinginkan. Kemudian kendaraan itu mogok dan sama sekali tidak mau bergerak. Bahkan sekarang orang yang ada didalamnya harus turun dan mendorong mobil itu, sungguh melelahkan. Apa yang sebenarnya terjadi ? Pasti ada yang tidak beres dengan kendaraan itu. Pasti ada kerusakan mesin, tapi sebelum melihat kerusakan mesinnya, lihatlah dahulu tangki bahan bakarnya.
Kalau kendaraan itu hanya dipacu untuk berjalan. Sedangkan tidak pernah berhenti untuk diisi bahan bakar maka sudah pasti akan macet. Apakah sekarang banyak keluarga yang mengalami nasib seperti ini, keluarga yang kehabisan bahan bakar.
b. Lima Bahasa Cinta
1. Bahasa cinta pertama : Kata-kata pendukung
Dalam Amsal 18:21, tertulis : ‘hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya’. Berkaitan dengan inilah bahasa cinta yang pertama, mengenai lidah, berhubungan dengan perkataan. Sasaran cinta bukanlah mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dari pasangan tetapi melakukan sesuatu untuk kesejahteraan orang yang kita cintai. Tetapi kenyataanya adalah apabila kita menerima kata-kata yang mendukung kita, kemungkinan besar akan lebih termotivasi untuk memberi respon yang sama. Kata-kata pendukung bisa dituangkan dalam :
a. Kata-kata mendukung.
Memberi kata-kata pujian hanyalah satu cara untuk mengungkapkan kata-kata yang mendukung bagi pasangan atau dalam cara yang lain adalah kata-kata yang membesarkan hati. Hal ini perlu dilakukan karena setiap dari kita memiliki bagian-bagian di mana kita kurang mantap, kurang berani serta kurang yakin. Dalam situasi ini kata-kata pujian dan dukungan akan menjadi tenaga bagi semangat untuk mengerjakan sesuatu yang positif.
Kata-kata yang mendukung bukan dimaksudkan untuk menekan pasangan untuk melakukan sesuatu yang kita inginkan. Memberi dukungan disini berarti memberi semangat untuk mengembangkan suatu minat yang sudah dimiliki oleh pasangan. Misalnya, beberapa suami menekan istrinya untuk mengikuti program diet dan terapi untuk melangsingkan tubuh. Si suami berkata : ‘ saya sendang memberi semangat’. Namun yang didengar oleh istri adalah tekanan dan bahkan suatu vonis bagi bentuk tubuhnya. Kata-kata mendukung merupakan penegasan apa yang sudah menjadi minat dari pasangan kita. Pujilah hal baik yang dilakukan oleh pasangan.
b. Kata-kata ramah.
Jika kita harus mengkomunikasikan cinta dengan kata-kata, kita harus menggunakan kata-kata yang ramah. Hal ini berkaitan dengan cara kita berbicara. Pernyataan : “Aku cinta kamu” apabila diucapkan dengan ramah dan mesra, bisa menjadi pengungkapan cinta yang tulus. Tetapi kata yang sama diucapkan dengan nada kalimat tanya, “Aku cinta kamu ?” memiliki arti yang sangat berbeda.
“Aku akan senang sekali kamu mencuci piring malam ini”, ini adalah kalimat yang bisa dimengerti sebagai ungkapan cinta. Contoh kalimat yang lain : “Aku kecewa dan pedih bahwa kamu tidak menawarkan bantuanmu malam ini”, kalau ini diungkapkan dengan cara yang jujur dan ramah bisa merupakan ungkapan cinta.
Cinta tidak menyimpan daftar catatan kesalahan. Cinta tidak mengungkit-ungkit kesalahan dan kegagalan masa lalu. Berapa banyak kesempatan makan malam yang indah menjadi rusak seketika ketika ditengah-tengah makan kemudian bertanya : “Kenapa kamu mengajak makan malam disini, dulu kamu pernah makan malam dengan pacarmu disini ya?” Suasana yang begitu indah tiba-tiba hancur karena menyimpan daftar kecurigaan di masa lalu.
c. Kata-kata merendah.
Cinta mengajukan permohonan bukan menyatakan tuntutan. Saat kita harus memberitahukan kebutuhan kita kepada pasangan, utarakanlah itu sebagai permohonan. Seorang suami bisa mengungkapkan : “Aku kepingin makan sayur lodeh buatanmu, aku sangat senang kalau kamu punya waktu untuk itu”. Namun suasana akan menjadi berbeda kalau suami mengatakan :”Kamu tahu, semenjak kelahiran anak pertama, aku tidak pernah makan sayur lodeh dan sepertinya juga tidak akan makan sayur lodeh lagi sampai mati”. Atau coba bandingkan dua kalimat ini. “Pak, kalau talangnya tidak dibersihkan, nanti ada pohon asem tumbuh diatas rumah kita”, atau kalimat seperti ini : “Menurut bapak, apakah bapak punya waktu akhir minggu ini untuk bisa membersihkan talang bersama-sama”. Satu kalimat berisi kata-kata yang merendah dan memohon tetapi kalimat yang lain berisi tuntutan dan penghakiman.
d. Berbagi cerita.
Perlu juga memberikan kata-kata pujian dan pendukung secara tidak langsung. Ini bisa dilakukan dengan cara menceriterakan hal-hal yang positif mengenai pasangan kita kepada orang lain. Orang lain disini bisa orang tua dari pasangan kita, bisa juga kepada saudaranya atau juga teman dekatnya. Mereka akan menceriterakan dukungan itu kepada pasangan kita dan akan menjadi cara yang baik untuk meneguhkan sesuatu yang baik dari pasangan. Setiap orang yang dihargai akan merasa dicintai dan setiap orang yang merasa dicintai akan menunjukkan cinta yang lebih lagi untuk pasangan.
2. Bahasa cinta kedua : Menciptakan saat-saat yang mengesankan
Yang dimaksud dengan ‘saat-saat yang mengesankan’ adalah memberi seseorang perhatian sepenuhnya pada pasangan saat bersama-sama. Bersambung…..
Oleh Pdt. Sundoyo
GKJ Brayat Kinasih
KPAI : Kegiatan Belajar Di Luar Kelas Turunkan Tingkat Stress Anak

GKJbrayatkinasih, Jakarta- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendukung kegiatan belajar di luar kelas yang diperingati tanggal 7 September setiap tahunnya. Kini, sedikitnya ada 20 negara yang mendukung dilakukannya kegiatan pembelajaran di luar kelas ini.
Di Indonesia sendiri dengan dikoordinir oleh LSM Kerlip bekerja sama dengan Kemendikbud, Kemenag dan KPPA, telah terdaftar 2.168 sekolah/ madrasah /PAUD/SLB dari 18 Provinsi, dengan melibatkan siswa sebanyak 341.772 siswa. Demikian disampaikan Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty di Jakarta, Kamis (7/9/2017)
“Yang dimaksudkan hari belajar di Luar Kelas adalah hari untuk merayakan serta menginspirasi bermain dan pembelajaran di luar kelas dengan memprioritaskan waktu bermain,” ujar Siti. Pembelajaran di luar kelas menurut KPAI akan meningkatkan kesehatan anak, melibatkan mereka dalam pembelajaran serta mendorong keterikatan anak dengan alam.
“Bermain bukan hanya mengajarkan keterampilan penting dalam kehidupan, seperti daya tahan, kerja sama, dan kreativitas, tetapi juga merupakan hal yang pokok bagi anak untuk menikmati masa kecil mereka,” kata dia.
Dengan maraknya permasalahan kekerasan yang terjadi pada siswa di sekolah, maka salah satu upaya menurunkan tingkat stress pada anak/siswa adalah dengan mengefektifkan kembali keceriaan mereka melalui kegiatan yang diluar rutinitas.
“Pada kegiatan ini antara lain diisi dengan kegiatan sarapan bersama, dengan makanan olahan yang sehat, gerakan peduli lingkungan, bermain bersama dalam permainan tradisional yang lebih mengutamakan permainan kelompok dari pada diri sendiri (solitaire),” ujar Sitti. (Sumber: kpai.go.id)
Dukung Perpres, KPAI Nilai Penting Pendidikan Karakter Bagi Anak

GKJbrayatkinasih, Jakarta- Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengepresiasi, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Sebab, Perpres PPK sangat menekankan pada penguatan pendidikan karakter.
Dia menambahkan, aturan tersebut tidak seperti Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 yang menekankan pada hari sekolah dan lamanya anak belajar di sekolah. “Selain itu, Perpres PPK menghapus kewajiban sekolah delapan jam per hari atau 40 jam per pekan, hal ini jelas didasarkan pada kebutuhan dan kepentingan yang terbaik bagi anak,” kata Retno melalui keterangan tertulis yang diterima Republika, Kamis (7/9).
Retno menerangkan, pada Pasal 9 Perpres tentang PPK, terlihat pemerintah mengakomodir pihak-pihak yang keberatan dengan pemberlakuan sekolah lima hari. Pasal tersebut kemudian memberikan pilihan lima hari atau enam hari sekolah.
Bahkan, Pasal 9 Ayat 3 menentukan persyaratan sekolah lima hari melalui poin (a) sampai dengan (d). Selain kecukupan pendidik, syarat sekolah lima hari yakni harus didukung sarana dan prasarana memadai serta kearifan lokal dan pendapat ulama atau tokoh agama.
“Prasyarat menjadikan lima hari sekolah tidak mudah dilaksanakan oleh satuan pendidikan tanpa memenuhi keempat prasyarat tersebut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Perpres PPK juga tidak otomatis mudah diimplementasikan di lapangan. Perlu diterjemahkan kembali dalam aturan turunan dari perpres yang menjadi petunjuk teknisnya.
Lima Saran KPAI
Retno Listyarti menyarankan lima hal agar penguatan pendidikan karakter berhasil. Menurutnya, membangun karakter harus dimulai dengan membangun budaya sekolah (school culture). Artinya, melibatkan seluruh pemangku kepentingan atau stakeholder di sekolah. Mulai dari pendidik, tenaga kependidikan, kepala sekolah, siswa dan bahkan orang tua serta masyarakat sekitar.
Kedua, Retno melanjutkan, pembangunan karakter harus dimulai dari orang dewasa di lingkungan rumah dan sekolah. Sebab, 70 persen perilaku anak-anak adalah meniru. Dia menambahkan, anak belajar dari model atau butuh panutan atau role model di sekitarnya.
“Misalnya sekolah ingin menanamkan karakter jujur, harus dimulai dari kepala sekolah yang mengelola keuangan sekolah secara transparan, laporan keuangan dapat diakses di website sekolah, anggaran disusun dengan partisipasi warga sekolah, dan lain-lain,” ujar dia melalui keterangan tertulis yang diterima Republika, Kamis (7/9).
Dia menerangkan jika kepala sekolah mencontohkan transparan maka pengurus OSIS pasti meniru dengan mengelola uang secara transparan. Juga melaporkannya secara transparan kepada publik.
Ketiga, dia menjelaskan, mendidik karakter adalah membangun kebiasaan, perilaku berulang yang bisa menjadi budaya atau kebiasaan. Misalnya, perilaku membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah di sekolah.
Dia menerangkan anak-anak perlu dibiasakan menyimpan sampahnya kalau tidak menemukan tempat sampah. Jika anak-anak terbiasa melakukan ini maka dia akan menyimpan sampai sampai menemukan tempat sampah.
Retno menuturkan ini harus konsisten dan secara terus menerus dilakukan. Tentu saja, dia mengatakan guru dan kepala sekolah harus menirukan hal serupa sehingga menjadi panutan atau teladan bagi siswa.
Keempat, dia mengatakan, keberhasilan PPK sangat ditentukan oleh faktor pendidik yang akan jadi role model bagi peserta didik. Tidak adil kalau pendidikan penguatan karakter hanya menuntut anak berubah tetapi tidak diiringi dengan perubahan manusia dewasa di sekitar anak.
Kelima, Retno melanjutkan, agar PPK berhasil diimplementasikan oleh satuan pendidikan, pemerintah harus berkonsentrasi penuh melatih dan mempersiapkan guru. Pemerintah juga harus bekerja keras memenuhi delapan standar nasional pendidikan (SNP).
“Yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan pendidikan, dan standar penilaian pendidikan,” ujar dia.
Retno mengapresiasi perpres ini. Namun, dia menyatakan, aturan ini tidak otomatis mudah diimplementasikan di lapangan. Perlu diterjemahkan kembali dalam aturan turunan dari perpres yang menjadi petunjuk teknis.
“Ada Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam implementasi PPK. Pertama, karakter tidak bisa di diteorikan apalagi didiktekan pada anak. Karakter harus dibangun melalui seluruh proses pembelajaran di sekolah,” kata Retno. (Sumber: kpai.go.id)