Home » Uncategorized

Category Archives: Uncategorized

Renungan Sadar Bhs. Indonesia, Maret 2021

Minggu, 11 April 2021 Minggu Paskah II

Kisah Para Rasul 4: 32-35; Mazmur 133; I Yohanes 1: 1-2: 2; Yohanes 20: 19-31

Pengutusan.

Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku,  demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. ” (Yohanes 20:21)

Jika kita diutus atau diperintahkan oleh orang tua kita, apakah yang harus kita bawa? Jawabannya tentu beragam. Jikalau kita disuruh pergi ke luar kota yang jauh sekali, tentu saja kita membawa

bekal dalam bentuk uang, minuman, makanan ringan, dan bahkan pakaian. Jika tugasnya banyak, kita juga bisa membuat catatan agar tidak dilupakan. Tapi yang terpenting, kita membawa semangat

perintah orang tua kita agar kita bisa melakukan tugas itu dengan baik. Doa orang tua juga menuntun tindakan kita.Seperti pengutusan yang disampaikan Tuhan untuk kita orang percaya.

Dimulai dari Sang Bapa yang mengutus Tuhan Yesus, begitu juga Tuhan Yesus memgutus kita. Dia berkata, “…Sama seperti Bapa mengutus Aku,  demikian juga sekarang Aku mengutus kamu . ” Sebagai orang yang telah menerima anugrah keselamatan dari Tuhan Yesus, para murid diutus untuk menjadi saksi dunia. Dan para murid itu diperlengkapi dengan Roh Kudus. Oleh Karena kuasa Roh Kudus memberi kemampuan para murid untuk melakukan: “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”(ayat 23).

Sebagai pengikut Tuhan Yesus, kita juga menerima pengutusan dari Tuhan Yesus. Kita dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi saksi-Nya di dunia ini. Dengan pertolongan dan kuasa Roh Kudus mari kita menjalankan pengutusan tersebut sesuai dengan kehendak Tuhan | * AW

 

 

Senin, 12 April 2021 Minggu Paskah II

Daniel 3: 1-30; Jabur 135; 1 Yohanes 2: 3-11

Menyelaraskan

“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”(1 Yohanes 2: 6)

Mangga-mangga sami dherek Gusti;

Mangga sami ndherek Gusti,

Gusti Yesus Juru Wilujeng;

Mangga-mangga sami ndherek Gusti.

Ini nyanyian anak-anak Sekolah Minggu yang menyenangkan dan mengandung makna  yang dalam. Karena Sang Kristus, dosa-dosa kita diampuni. Hidup yang telah diampuni harus dijalani dengan kebaikan dan yang berguna sebagai eujud hidup baru yaitu memenuhi apa yang Tuhan kehendaki melalui firman-Nya. Dalam hidup baru ini kita sudah dipersatukan dengan Sang Kristus. Sang Kristus menjadi Juruselamat hidup kita. Dia berjalan di depan kita dan kita menjadi pengikutnya di titian jalan yang sudah diteladankan terhadap kita. Jika Sang Kristus mengasihi dengan pengorbanan, kita juga mengasihi dengan pengorbanan. Sang Kristus mengampuni kita tanpa pamrih, tanpa hitung -hitungan. Jadi kewajiban kita untuk menjalani hidup kita seperti hidup Sang Kristus.

Di dunia ini ada banyak tokoh yang juga memberi pencerahan dan inspirasi untuk hidup kita. Orang itu bisa salah satu motivator,orang yang kita sukai, orang yang sukses, guru atau mentor kita, dan masih lebih banyak lagi. Tapi dari sekian banyak orang yang punya pengaruh dalam hidup kita, tentu saja seharusnya Sang Kristus yang utama dan di urutan pertama. Dia adalah orang yang telah merubah dunia ini dan menyelamatkan kita. Kita tidak boleh meninggalkan jejak kaki Sang Kristus. Kita harus selalu menyelaraskan langkah hidup kita dengan hidup Sang Kristus. | * AW

 

 

Selasa, 13 April 2021 Minggu Paskah II

Daniel 6: 1-28; Mazmur 135; 1 Yohanes 2: 12-17

Jangan Melekat

“Dan dunia ini sedang lenyap  dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah  tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2:17)

Rasul Yohanes bersaksi kepada orang percaya tentang ancaman yang dapat menghancurkan persekutuan orang percaya dengan Tuhan Allah yaitu melekat pada dunia. Penjelasannya, pertama, jika seseorang melekat pada dunia,tidak akan mendapatkan kasih dari Allah Bapa. Yang dimaksud dengan dunia di sini bukanlah dunia tempat kita berpijak, juga bukan orang-orang di dunia ini. Dunia di sini yaitu semua itu bertentangan dengan Tuhan Allah. Kedua, “dunia ini sedang lenyap  dengan keinginannya.” Adalah suatu kebodohan jika manusia menyukai hal-hal yang tidak kekal. Tetapi manusia sering kali lupa, seringkali lebih menyukai hal-hal yang terlihat oleh mata, yang hanya bersifat sementara saja.

Rasul Yohanes menunjukkan tiga karakteristik kehidupan yang melekat pada dunia, Pertama, keinginan daging. Adalah sangat wajar jika manusia memiliki keinginan, tetapi menjadi permasalahan jika keinginan ini melekat pada daging sehingga menjadi keinginan daging. Daging

di sini itu merujuk pada semua hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kedua, keinginan mata. Mata bisa menimbulkan nafsu keserakahan, lalu jika nafsu keserakahan melekat dengan keinginan mata maka bisa melakukan dosa. Ketiga, keangkuhan hidup. Hidup itu adalah anugerah Tuhan, tetapi bila hidup dengan terjebak dalam keangkuhan hidup akan menimbulkan dosa. Keangkuhan hidup ini merupakan bentuk penyangkalan atas kehadiran Tuhan dan memiliki anggapan bahwa hidupnya karena kekuatannya sendiri. | * AW

 

 

Rabu, 14 April 2021 Minggu Paskah II

Yesaya 26: 1-15; Jabur 135; Markus 12: 18-27

Damai Sejahtera

“Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai  sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami.. ”(Yesaya 26:12)

Penjelasan tentang kondisi waktu yang akan datang , adalah kata-kata yang dimaksudkan untuk menghibur dan mendorong juga memberi harapan untuk umat Tuhan saat itu merasakan penderitaan dan sengsara. Karena harapan itu ditujukan kepada Tuhan Allah sehingga selalu ada harapan dan keyakinan yang kuat. Meskipun dalam keadaan yang rumit  dan meratap, harapan itu dinyanyikan dengan sukacita.

Pertama, karena bisa melihat ke depan bahwa  kotanya Tuhan akan dimuliakan, karena kota beneng dunia  ini telah diruntuhkan dan dikuburkan dalam debu. Kedua, karena sudah ditentukan bahwa kebenaran akan menang. Orang jahat akan melakukan pengkhianatan, mereka tidak akan melihat kemuliaan Tuhan dan akan malu. Ketiga, karena meskipun orang benar dan setia melakukan apa yang benar kepada Tuhan dia akan mati tapi bangkit kembali.

Dengan makna dan kejelasan, Yesaya melihat bahwa Tuhan itu diakui sebagai sebagai Gunung Karang yang abadi, Juruselamat dan pemberi damai sejahtera atas semua yang percaya dengan tulus dan punya jalan yang lurus. Penjelasan yang istimewa ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah sang Pejuang yang merobohkan benteng musuh. Dia adalah orang yang membuka jalan-jalan dan pintu-pintu untuk para miliknya. Kebangkitan Tuhan Yesus dari  antara yang mati adalah pekerjaan keselamatan dan perdamaian yang indah bagi orang percaya, karena kebangkitan Tuhan Yesus sebagai jaminan untuk kebangkitan orang-orang percaya. | * AW

 

 

Kamis, 15 April 2021 Minggu Paskah II

Daniel 9: 1-19; Mazmur 4; 1 Yohanes 2: 18-25

Doa Daniel

Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah n  tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri.. “(Daniel 9:17)

Doa Daniel ditujukan kepada Tuhan setelah itu setelah Daniel memeriksa kumpulan dalam kitab-kitab. Menurutnya, Daniel membaca peringatan nabi Yeremia kepada orang-orang Israel tentang hukuman yang akan dijatuhkan kepada orang-orang Israel yaitu akan diasingkan ke Babel. Ketika waktunya tiba, nabi-nabi palsu akan menghibur dengan mengatakan bahwa hukumannya tidak lama. Tetapi Yeremia mengingatkan bahwa pembuangan akan terjadi selama tujuh puluh tahun. Setelah itu ada dua peristiwa yang akan terjadi yaitu Babel akan dihukum karena penindasan mereka  atas bangsa Israel dan atas orang-orang Yahudi akan dipulangkan ke Israel dan akan membangun kembali Bait Suci.

Daniel percaya bahwa bangsa Israel akan dipulihkan. Sehingga Daniel berdoa, memohon pengampunan atas dosa dan dosa bangsanya. Dia juga berdoa agar Tuhan memulihkan bangsa Israel  didasarkan pada kasih dan belas kasihan Tuhan, seperti Tuhan Allah juga membebaskan bangsa Israel dari tanah perbudakan Mesir. Dalam doanya Daniel meminta Tuhan untuk menepati janjinya. Di sini sangat jelas bahwa doa Daniel tidak hanya untuk kebaikan Israel, tetapi juga agar pekerjaan Tuhan dapat terwujud.

Daniel memanjatkan doa syafaat untuk bangsanya. Sikap Daniel ini menunjukkan kepada kita sikap peka terhadap kebutuhan pengampunan orang lain yaitu bangsanya dan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kamantapan hati juga sangat dibutuhkan untuk meminta Tuhan memenuhi janji yang pernah Dia buat terhadap Yeremia yaitu janji untuk memulihkan Yerusalem. Apakah kita juga berdoa seperti Dhaniel. | AW

 

 

 

Jumat, 16 April 2021 Minggu Paskah II

Daniel 10: 2-19; Mazmur 4; I Yohanes 2: 26-28

Dibela Tuhan

“Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku   dinodai,  berapa lama lagi kamu mencintai yang sia-sia dan mencari kebohongan?” (Mazmur 4: 2)

Fitnah adalah menuduh dengan keji dengan maksud untuk mengalahkan dan mempermalukan orang lain. Tentu saja orang-orang difitnah tidak melakukan tindakan yang dituduhkan. Peribahasa Fitnah lebih kejam dari pembunuhan menunjukkan bahwa dampak dari fitnah bisa lebih berat dari dampak pembunuhan. Meski kemudian tidak terbukti melakukan kesalahan, tapi menanggung tuduhan telah membuat hatinya tersakiti. Fitnah sebenarnya telah pembunuhan karakter.

Bagi pemazmur tidak ada cara lain untuk mengatasinya fitnah selain meminta perlindungan dari Tuhan Allah. Pemazmur percaya bahwa Tuhan telah memilih dia dan akan mengungkapkan bahwa dia tidak salah. Jadi dia berani menegur orang-orang yang mencari kesalahannya dan mendoring mereka bertobat. Lebih dari itu pemazmur juga punya perhatian  kepada semua orang yang mengalami difitnah seperti dia. Permintaannya kepada Tuhan adalah untuk menjawab doa orang-orang ini agar Tuhan menyatakan kehendaknya.

Iman terhadap pertolongan Tuhan Allah menunjukkan bahwa orang-orang  yang bersandar pada Tuhan akan selalu merasakan sukacita dan kelimpahan yang tidak akan diterima oleh manusia yang menghujat Tuhan melalui fitnah yang ditujukan pada orang-orang percaya. Lalu bagaimana dengan kita?Jangan

Sampai tergesa-gesa membela diri sendiri, lebih baik menenangkan diri dan selalu mencari dan meminta Tuhan untuk bisa menghadapi dengan bijak. | * AW

 

 

Sabtu, 17 April 2021 Minggu Paskah II

Kisah 3: 1-10; Mazmur 4; Lukas 22: 24-30

Melayani

Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar   di antara mereka.” (Lukas 22:24)

Para murid sering hanya melihat Yesus Sang Mesias berdasarkan cara lahiriah saja, para murid menganggap bahwa Tuhan Yesus akan menjadi Raja.Sehingga punya semangat untuk ikut bekerja di pemerintahan Tuhan Yesus nanti sesudah Tuhan Yesus menjadi Raja dunia ini. Inilah yang ternyata

yang menjadi penyebab mereka saling bertengkar tentang siapa yang akan dianggap tertinggi kedudukannya. Bahkan hal itu terjadi bersamaan dengan perjamauan bersama Paskah, yaitu saat Yesus mempersiapkan diri agar para murid bisa menerima kematian Tuhan.

Menanggapi pertengkaran para murid,Tuhan Yesus membandingkan pemerintahan duniawi dan pemerintahan rohani. Pemerintahan dunia hanya bergantung pada penguasa yang akan memerintah atas orang lain, bahkan kemudian itu akan menjadi berkuasa. Para murid harus berbeda, para murid

tidak boleh sok kuasa, bahkan para murid pun dalam melakukan tugasnya bukanlah menjadi orang yang dilayani tetapi untuk melayani. Pemimpin bukanlah waktu untuk menerima hak istimewa tetapi sebagai tanggung jawab pelayanan yang harus dilakukan dengan rendah hati di hadapan Tuhan.

Tuhan Yesus sudah memberikan teladan dalam seluruh hidup-Nya. Dia berada di tengah-tengah para murid sebagai pelayan, sampai menyerahkan hidup-Nya untuk melayani kebutuhan manusia yang utama yaitu keselamatan kekal. Melalui perkataan-Nya, Tuhan Yesus menginginkan bila tentang  sesorang jangan dilihat dari kedudukan atau kekuasaan yang dia miliki, tetapi dari sikap hidup dan pelayanan terhadap orang lain. | * AW

 

 

Minggu, 18 April 2021 Minggu Paskah III

Kisah Para Rasul 3: 12-19; Mazmur 4; 1 Yohanes 3: 1-7; Lukas 24: 36b-48

Jadilah Saksi

” Kamu adalah saksi  dari semuanya ini..” (Lukas 24:48)

Untuk menjadi saksi, seseorang tidak hanya mengerti apa yang harus disaksikan, tetapi juga perlu mempersiapkan mental. Persiapan ini penting agar menjadikan orang laon mantap, bisa menerima dan mempercayai kesaksiannya. Hal ini juga dialami oleh para murid Tuhan yang diutus untuk menjadi saksi yang berkaitan dengan hidup dan pekerjaan Sang Kristus.

Di waktu itu, saat kenaikan Tuhan Yesus, Dia mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi saksi. Dia membuka pikiran murid-muridnya untuk mengerti isi Alkitab, menerima dan percaya pada pekerjaan keselamatan yang telah dilakukan Tuhan Yesus, dan juga dapat mewartakan kabar pertobatan dan pengampunan dosa atas nama Tuhan Yesus berbicara kepada bangsa-bangsa. Tidak hanya itu, murid-muridnya itu juga dilengkapi dengan kekuatan Tuhan yang bisa memampukan murid menjadi saksi bagi Tuhan. Bahkan sebelum Tuhan naik, Tuhan memberi berkat kepada murid-muridnya. Semua itulah yang membuat para murid begitu bersemangat sehingga mereka memberitakan Injil menjangkau seluruh dunia.

Bagaimana dengan kita? Apakah bersedia menjadi saksi Tuhan? Hari ini kita dipanggil untuk menjadi saksi Tuhan. Dia bersedia menyediakan dan memperlengkapi kita dengan apa pun yang kita butuhkan, melalui Kitab Suci Perjanjian Lama juga Perjanjian Baru, agar iman kita semakin kuat dan kita bisa bersaksi tentang keselamatan dan pekerjaan Tuhan dalam hidup sehari-hari. | * AW

Liturgi Ibadah Minggu, 31 Mei 2020

 

 

 

Liturgi Ibadah Minggu, 24 Mei 2020