Home » Uncategorized

Category Archives: Uncategorized

Renungan Sadar Bhs. Indonesia, Juni 2021

Senin, 26 Juli 2021 Minggu Biasa XII

2 Samuel 11: 14-21; Mazmur 37:12-22; Filipi 3: 14-21 link Alkitab

Kekuatan Sejati

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan  kepadaku” (Filipi 4:13)

Subur Kinanthi bersaksi pada saat pemahaman Alkitab, isi kesaksiannya  menceritakan kehidupannya saat dia berjualan cendol dawet di pinggir jalan. Hari pertama sampai pada hari kesepuluh  tidak ada satupun orang yang membelinya.Dengan kesabaran, dan  permohonan yang tiada henti lambat laun semakin banyak  pelanggan yang datang membeli.

Bacaan kita hari ini menceritakan kesaksian Rasul Paulus saat di penjara. Surat itu dikirim ke Gereja di Filipi. Apa yang ditulis Rasul Paulus tidak menunjukkan bahwa dia sedang mengalami pederitaan atau kekurangan tetapi Rasul Paulus ingin menunjukkan bahwa orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus terkadang merasakan kelimpahan, terkadang juga merasakannya kekurangan. Bagaimana sikap hidup Rasul Paulus ketika dipenjara? Dia berkata“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan  kepadaku”, Dengan harapan kesaksian tersebut memberikan kekuatan kepada Gereja Filipi, supaya imannya kepada Tuhan Yesus semakin kuat dan selalu percaya bahwa Tuhan selalu bekerja dalam kehidupan jemaat Gereja.

Pandemi yang terjadi di Indonesia, kehadiran virus corona dimulai bulan Maret 2020, menjadi keprihatinan seluruh masyarakat. Untuk membeli pakaian, beras serba susah dan juga yang punya pekerjaan harus berhenti karena kondisi ini. Tetapi sangat beruntung yang masih diberi waktu untuk merasakan indahnya hidup karena selalu dituntun oleh Tuhan. Semua ini bukan karena usaha manusia, tetapi kekuatan sejati dari Tuhan yang tak terbatas. |*YS

 

Selasa, 27 Juli 2021 Minggu Biasa XII

2 Samuel 11: 22-27; Mazmur 37:12-22; Roma 15: 22-33 link Alkitab

Berzinah

‘Setelah lewat waktu berkabung, maka Daud menyuruh membawa perempuan itu ke rumahnya. Perempuan itu menjadi isterinya dan melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN. “ (2 Samuel 11:27)

Orang kaya, orang miskin, orang yang punya pangkat dan derajad, kepala pemerintahan dan juga pejabat gereja baik yang tua maupun yang muda dapat diperdaya atau diganggu oleh iblis dan jatuh ke dalam dosa, melanggar perintah Tuhan nomor tujuh, yaitu perzinahan.

Raja Daud salah satu raja pilihan Tuhan dan bahkan diurapi sebagai raja yang terkenal juga jatuh ke dalam dosa. Ketika Raja Daud  melihat wanita cantik  wajahnya, yang bernama Betsyeba istrinya Uria, dan tumbuh di dalam hatinya untuk melakukan percabulan dengan Betsyeba yang seharusnya tidak dilakukan sebagai raja yang penuh dengan kewibawaan. Apalagi hubungannya dengan Tuhan  sangat dekat. Apa yang dilakukan raja Daud adalah jahat. Mengapa? Karena Raja Daud merencanakan kematian Uria, seorang prajurit yang setia,di dalam pertempuran. Setelah Uria meninggal, Batsyeba dijadikan istriya dan melahirkan seorang putra. Raja Daud jatuh dalam dosa, mengabaikan perintah Allah dan otoritasnya sebagai raja Israel adalah pilihan Tuhan.

Sebagai umat pilihan Tuhan, jangan sampai kita jatuh ke dalam dosa dengan melakukan perzinahan. Tuhan Allah menghendaki kita semua berjalan di jalan yang benar dan menggunakan tubuh kita untuk memuliakan Tuhan. Iblis sangat pandai menggoda dan menipu hati. Tetapi semua itu tergantung sikap kita, supaya kita tidak menuruti keinginan daging. |*YS

 

 

Rabu, 28 Juli 202  Minggu Biasa XII

2 Tawarikh 9: 29-31; Mazmur 37:12-22; Markus 6: 35-44 link Alkitab

Duabelas Keranjang

“Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan..”(Markus 6:43)

Suto dan Noyo mendiskusikan upah mereka. Suto adalah seorang tukang batu yang berpenghasilan hanya Rp 90.000 per hari dan harus memenuhi kebutuhan keluarga yang berjumlah empat orang. Noyo berpenghasilan harian Rp 70.000 untuk menghidupi keluarga beranggotakan lima orang. Realitasnya Suto tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, tetapi Noyo mampu menyisihkan sebagian penghasilannya dengan memasukkan ke celengan. Dengan kalimat sederhana, “sedikit tidak kurang tetapi banyak tidak sisa”. Cukup tidaknya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan kita  tergantung cara pengelolaannya.

Bacaan kita hari ini menceritakan kisah Tuhan Yesus saat memberi makanan kepada lima ribu orang bahkan lebih, karena hitungan lima ribu orang tersebut hanya prianya saja. Cara memberikan makan tersebut dengan memberkati lima potong roti dan  dua ekor ikan. Mustahil bagi para murid tentang peristiwa tersebut  tetapi Tuhan Yesus memiliki kuasa yang tidak dapat dibatasi dengan cara pandangan manusia. Mereka semua makan sampai kenyang  bahkan masih sisa roti dan ikannya dua belas keranjang.

Sisa dari dua belas keranjang inilah yang perlu kita perhatikan. Murid-murid mengumpulkan sisa roti dan ikan tersebut untuk persiapan waktu berikutnya jika mereka merasa lapar. Bisa juga para murid berhemat dan teliti dalam mengelola berkat dari Tuhan. Melalui tindakan para murid ini mari kita  menjabarkan dan mengelola berkat dengan teliti untuk kesejahteraan keluarga kita. Karena banyak orang yang tidak mampu untuk mengelola berkat Tuhan sehingga mengalami kekurangan. |*YS

 

 

 

Kamis, 29 Juli 2021 Minggu Biasa XII

Keluaran 32: 19-26a; Mazmur 51:1-12; 1 Korintus 11: 17-22 link Alkitab

Jujur

“Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini.” (Keluaran 32:24)

Semua manusia punya kesalahan, baik itu kesalahan yang disengaja maupun kesalahan yang tidak disengaja. Yang disengaja misalnya melanggar rambu lalu lintas. Sedangkan kesalahan yang tidak disengaja contohnya lupa mematikan kompor sehingga masakan gosong. Tidak semua kesalahan tersebut kemudian diakui oleh pelakunya, tetapi biasanya menyalahkan orang lain. Adam dan Hawa ketika jatuh ke dalam dosa juga tidak kemudian mengakui dosanya melainkan menyalahkan ular yang selalu menggoda.

Ketika Musa menerima hukum Taurat dari Tuhan Allah di gunung Sinai, umat Israel  menunggu Nabi Musa di bawah gunung. Rasa lelah, lelah menunggu Nabi Musa, bangsa Israel malah berpaling dari Tuhan dengan membuat patung cor-coran dari emas kemudian disembah. Harun yang seharusnya mendampingi bangsa Israel malah memimpin mereka melakukan hal tersebut. Saat Musa turun dari gunung, kemudian memarahi Harun,tetapi Harun tidak menyadari bahwa dia bersalah. Harun memberi tahu Musa bahwa emas yang dikumpulkan kepada Harun itu dilemparkan ke dalam api dan kemudian menjadi anak lembu. Tindakan Harun tersebut tidak jujur, dan dia tidak mengakui kesalahannya.

Di tengah keluarga kita, di lingkungan pekerjaan kita, juga dalam kehidupan gereja kita sering melakukan kesalahan. Apa kita sudah mengakui jika kita  bersalah? Atau bahkan menyalahkan orang lain? Mari kita belajar tentang kejujuran mengakui kesalahan dalam hidup kita. |*YS

 

 

Jumat, 30 Juli 2021 Minggu Biasa XII

Yosua 23:1-16; Mazmur 51:1-12; 1 Korintus 11: 27-34 link Alkitab

Hak untuk menyembah Tuhan

“Maka demi nyawamu, bertekunlah mengasihi TUHAN , Allahmu.” (Yosua 23:11)

Adalah hal biasa bagi orang yang sudah lanjut usia dan sudah saatnya akan dipanggil oleh Tuhan memberi pesan dan menasihati orang-orang yang dikasihinya. Tidak hanya memberikan harta duniawi saja, namun para tetua juga ingin memberikan nasihat yang mencakup anak, cucu dan kerabat tercinta.

Yosua dipanggil oleh Tuhan Allah untuk menjadi pemimpin bangsa Israel sejak usia 80 tahun. Ketika bangsa Israel akan memasuki tanah perjanjian yaitu tanah Kanaan, sampai tanah Kanaan untuk menata bangsa Israel yang merupakan bangsa pilihan Tuhan tersebut. Menurut para ahli Yosua dipanggil Tuhan sampai usia 110 Tahun. Sebelum meninggal Yosua mengumpulkan para tua-tua dan pemimpin Israel untuk bersama-sama dinasehati.

Bangsa Israel diingatkan agar mereka bisa melihat dan merasakan pekerjaan Tuhan Allah, yang memimpin mereka keluar dari Mesir, yaitu tanah perbudakan menuju ke tanah perjanjian. Banyak hal-hal yang telah diterima dalam kehidupan bangsa Israel. Oleh sebab itu Yosua yang mengingatkan bangsa Israel untuk berdiri teguh dalam berbakti kepada Tuhan Allah.

Banyak juga berkat yang telah kita terima dari Tuhan berupa kedamaian, kemakmuran, keselamatan begitu juga kecukupan kebutuhan pakaian dan makanan yang tidak pernah berhenti. Siang malam kita selalu dipelihara oleh Tuhan. Saat kita melalui jalan yang sulit, Tuhan juga menuntun dan memberikan jalan keluar. Karena itu marilah kita selalu memberikan pujian dan selalu menyembah Tuhan di dalam  keadaan apapun. |*YS

 

Sabtu, 31 Juli 2021 Minggu Biasa XII

Hakim 6:1-10; Mazmur 51:1-12: Matius 16:5-12 link Alkitab

Waspada

“Yesus berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi  orang Farisi dan Saduki.” (Matius 16:6)

Salah satu tugas Gereja Kristen Jawa adalah memelihara iman warga Gereja. Bermacam-macam dan banyak cara yang digunakan oleh  Majelis Gereja untuk menjaga utuhnya iman percaya. Melalui pelayanan untuk  anak-anak Sekolah Minggu hingga Komisi Adiyuswa, semuanya didampingi dengan baik. Karena orang percaya yang telah menjalani hidup baru tersebut tidak akan kebal dari berbagai pencobaan dan ajaran yang menyesatkan.

Bacaan kita hari ini menceritakan tentang ajaran Tuhan kepada murid-muridnya, ketika mereka mendengar ajaran orang Farisi dan Saduki. Tuhan Yesus memberi nasihat untuk berhati-hati terhadap apa yang diajarkan oleh orang-orang tersebut. Orang Farisi dan Saduki mengajar bangsa Israel tentang  hidup yang harus mematuhi Hukum Taurat, tetapi juga ditambahkan dengan  mengikuti adat budaya yang ada di lingkungannya. Tambahan ajaran tersebut digambarkan oleh Tuhan Yesus sebagai ragi yang dimasukkan ke dalam adonan roti. Jika murid-muridnya kemudian  percaya pada ajaran itu pasti tidak akan menerima hidup yang kekal, karena mereka mengikuti ajaran yang sesat.

Sebagai ciptaan baru kita harus menghindari ajaran sesat agar tidak masuk di dalam hati kita. Roti utama adalah pengajaran yang berasal dari Tuhan Allah. Pengajaran tentang apa yang  menjadi kehendak Tuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan para umat milikNya. |*YS

 

 

Minggu, 1 Agustus 2021 Minggu Biasa XIII

II Samuel 11: 26-12: 13a; Mazmur 51:1-12, Efesus 4:1-16; Yohanes 6: 24-35 link Alkitab

Menjaga Persatuan

“satu tubuh,dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,”(Efesus 4: 4)

Kita tentu mengerti tentang pujian KPK 319. Apa judul pujian tersebut? Benar. Judulnya Indahnya Persaudaraan. Dalam pujian tersebut dikatakan sesuatu yang penting dan harus diwujudkan. Tentang apa itu? Nah itu berkaitan dengan persatuan di tengah berbagai kondisi yang berbeda. Perbedaan budaya, agama,suku dan latar belakang. Saat kita masing-masing mampu mempertahankan persatuan tersebut,akan menumbuhkan keindahan. Keindahannya seperti pelangi. Meskipun pelangi terdiri dari warna yang berbeda-beda, namun ketika bisa menyatu menghaasilkan keindahan. Begitu juga apa dikatakan dalam bacaan kita hari ini.

Surat Efesus 4:1-16 adalah salah satu surat  pengharapan Rasul Paulus. Dalam surat ini, Rasul Paulus memberikan pengajaran dan peringatan untuk Gereja di Efesus. Apa isinya? Isinya agar jemaat bisa mewujudkan sikap membangun dan menjaga kesatuan di tengah berbagai keadaan (ayat 3).  Hal ini didasari karena gereja di Efesus telah menerima kasih karunia dan kemurahan dari Tuhan Yesus. Ketika gereja memelihara persatuan harus didasarkan pada 3 sikap. Sikap tersebut dengan hati yang sabar, rendah hati dan penuh kasih dengan saling tolong menolong. Ketika gereja di Efesus mampu melaksanakan sikap tersebut, keindahan persatuan dapat terwujud.

Begitu pula dengan kehidupan kita saat ini. Kita hidup di tengah bangsa yang berbeda agama, budaya, ras dan latar belakang. Firman Tuhan ini menjadi peringatan dan mendorong kita untuk menjaga kelestarian persatuan. Bersama mewujudkan pelangi yang indah, meskipun berbeda-beda tapi bersatu. Berdasar sikap rendah hati, sabar dan penuh kasih  di dalam kita menjaga persatuan. Pelangi yang indah dapat diwujudkan dalam hidup kita. Amin. |*MAG

Liturgi Ibadah Minggu, 31 Mei 2020

 

 

 

Liturgi Ibadah Minggu, 24 Mei 2020