Home » Uncategorized » Renungan Sadar Bhs. Indonesia, September 2021

Renungan Sadar Bhs. Indonesia, September 2021

Senin, 12 September 2021 Minggu Biasa XIX

Amsal 22: 1-21, Mazmur 73: 21-28, Roma 3:9-20 link Alkitab

TIDAK ADA KELEBIHAN

“Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak.” (Roma 3:9a)

Sudah menjadi kebiasaan dan perilaku manusia di dunia dengan menganggap bahwa orang lain lebih rendah daripada dirinya. Kebanyakan cenderung untuk menuruti keinginannya sendiri. Tidak mau mengalah dan salah. Jika melakukan kesalahan, lalu mencari orang lain untuk bisa disalahkan. Diri pribadinya yang paling benar dan baik sendiri.

Orang-orang seperti itu dikritik dan dibukakan hatinya dengan bacaan Alkitab hari ini. Dalam Roma 3:9a; “Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain kemudian dapat bebas dan mudah merendahkan orang lain? Sama sekali tidak . Ini jelas ” Apakah kita memiliki kelebihan daripada orang lain, lalu dapat bebas dan mudah mempermalukan orang lain? Jawabannya: “ Sama sekali tidak”. Itu sangat jelas. Jika demikian  sejalan dengan judul nats Roma 3:9-20 “Semua manusia adalah orang berdosa”. Bahwa kita semua adalah manusia berdosa, kondisi kita tidak berbeda dengan orang lain. Semua menanggung dosa. Jadi seharusnya tidak boleh saling menyalahkan dengan orang lain, tetapi bersama bersujud disertai merendahakan diri dan hati di hadirat Tuhan.

Marilah dalam kehidupan sehari-hari, kita menyadari bahwa semua dalam kondisi yang sama yaitu orang berdosa. Marilah kita selalu rendah hati, saling menghormati, menerapkan kasih dengan menjalin hubungan baik kepada Tuhan dan sesama. Dengan demikian kita mewujudkan keluarga Allah di dunia.Keluarga yang penuh kasih dan selalu saling menghormati|*SHS

 

 

Selasa, 14 September 2021 Minggu Biasa XIX

Amsal 25: 1-28, Mazmur 73: 21-28, Kolose 3:1-11 link Alkitab

PERKARA DI ATAS

“Pikirkanlah perkara yang di atas , bukan yang di bumi.” (Kolose 3: 2)

Pada suatu saat pak dosen masuk ke kelas dengan membawa ember, lalu mengambil batu besar, kerikil, pasir dan air. Para siswa bingung. sehingga pak dosen kemudian berkata: “Anak-anak silahkan semua memasukkan pasir, air, batu dan kerikil ini ke dalam ember, itu harus dimasukkan semua, tidak ada yang tersisa”. Para siswa kemudian mulai mencoba ada yang memasukkan  air dulu baru batu, ada yang memasukkan pasir terlebih dulu. Semua tidak ada yang bisa memasukkan tanpa sisa di ember tersebut. Kemudian pak dosen itu berkata: “Yang harus diprioritaskan adalah benda yang besar terlebih dulu”, .pak dosen maju mengambil batu dan memasukkannya dalam ember, lalu kerikil, lalu pasir, dan terakhir air. Semua bisa masuk.

Begitu juga prioritas dalam hidup, hal-hal besar itu penting. Dan kata besar itu bukan hanya kuantitasnya tetapi kualitasnya. Firman Tuhan berkata dalam ayat 2, “Pikirkanlah perkara yang di atas , bukan yang di bumi.”  Yang harus diperhatikan  adalah hal yang di atas, yaitu hal yang rohani dari Tuhan, bukan hanya tentang duniawi. Tuhan ingin kita memperhatian hal surgawi. Karena jika kita hanya memikirkan tentang hal-hal di bumi, semuanya terbatas dan tidak kekal, jika demikian pikiran dan hidup kita hanya tertuju kepada hal-hal yang tidak kekal. Kekekalan tidak berdiam di bumi, tetapi di tempat yang tinggi. Kita diharapkan untuk merasakan dan memahami perkara-perkara yang di atas yang merupakan perkara-perkara yang kekal. Kekekalan yang di atas hanya milik Tuhan. Marilah kita selidiki hidup kita apakah sudah mengenakan perkara yang di tempat tinggi. |*SHS

 

 

Rabu, 15 September 2021 Minggu Biasa XIX

Amsal 29: 1-27, Mazmur 73: 21-28, Yohanes 7: 25-36 link Alkitab

UTUSAN

“Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku. ”  (Yohanes 7:29)

Kedudukan utusan itu sama dengan yang mengutus. Contoh: ada utusan raja yang diutus untuk menemui para bupati di wilayah kerajaan, karena utusan tersebut orang yang dipilih yang bertugas menjadi penyampai pesan  raja kepada para bupati. Apa yang menjadi perintah Sang Raja akan disampaikan oleh utusan sesuai apa adanya  demikian juga pesan utusan tersebut akan dihormati dan dilaksanakan oleh para bupati.

Demikian juga Tuhan Yesus Kristus adalah utusan Bapa, sebagai putra tunggal yang diutus ke dunia untuk memberi pertolongan menebus dosa manusia. Seperti dalam bacaan kudus pada Yohanes 7:29 yang menyatakan bahwa Kristus datang dari Bapa diutus ke dunia. Bagi orang yang beriman, Sang Utusan  adalahTuhan sendiri yang rela datang dan meninggalkan kekuasaan besar kemudian menjelma menjadi manusia yang diutus hidup tinggal bersama kita semua. Kita diberi pengharapan dalam hidup, untuk mengikuti di belakangNya menuju ke jalan kebenaran. Demikian juga apa yang menjadi kehendak dan perintah Tuhan Yesus tentu saja juga kita hormati dan kita laksanakan dalam hidup kita. Tuhan Yesus memerintahkan agar kita menjadi utusan Kristus sehingga kita juga harus menyampaikan kepada dunia apa adanya yang menjadi kehendak Tuhan Yesus untuk keselamatan manusia di dunia. Menabur benih kebahagiaan dan pengharapan bahwa Kristus bersedia bekerja untuk menebus dosa manusia. Sang Kristus telah menyelesaikan pekerjaan sebagai utusan Bapa. Apakah kita bersedia untuk melanjutkan pekerjaan Kristus sebagai para utusan yang setia? |*SHS

 

 

Kamis, 16 September 2021 Minggu Biasa XIX

Amsal 30: 1-10, Mazmur 1, 1 Korintus 2: 1-5 link Alkitab

DENGAN KEKUATAN ALLAH

Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat  yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan  Roh  , supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan  Allah. (I Korintus 2: 4-5)

Di zaman yang semakin maju dan modern ini, kebanyakan orang membanggakan kepandaian dan kekuatan kemanusiaan. Memang benar bahwa orang-orang semakin pintar, karena masuk  pendidikan tinggi. Lulusan strata satu (S1) sudah banyak sekali. Tetapi apakah kepandaian dan kecerdasan yang seperti itu bisa menjadi jaminan bahwa hidupnya akan bertahan dan penuh dengan kebahagiaan sejati? Kenyataannya tidak. Yang bisa menjadi jaminan adalah pengharapan di hadirat Tuhan,

Apabila  pengharapan di hadirat Tuhan yang bisa menjadi dasar hidup, maka tidak ada gunanya bila hanya mengandalkannya kekuatan kemanusiaan. Tidak perlu menyombongkan diri pribadianya. Apalagi dalam “percaya” kepada Tuhan. Percaya harus mengandalkan Tuhan, iman itu dasarnya dalam kekuatan Tuhan. Kita manusia yang berdosa, malang dan miskin. Kita tidak cukup kuat untuk mempertahankan hidup, jika kita cukup kuat untuk melakukannya itu karena pertolongan dari kekuatan Allah. oleh karena itu tidak usah menyombongkan diri.

Mari kita menjalani hidup kita dengan kerendahan hati, mari kita dasarkan dengan iman yang terletak pada kekuasaan Tuhan. Menyerahkan hidup seutuhnya kepada Tuhan yang berkuasa atas kita. Kemuliaan hanya untuk Tuhan selama-lamanya. |*SHS

 

 

Jumat, 17 September 2021 Minggu Biasa XIX

Amsal 30:18-33, Mazmur 1, Roma 11:25-32 link Alkitab

MENYESAL

Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya (Roma 11:29)

“Bagaimana tidak menyesal, setelah mencarikan pinjaman uang untuk membantu saudaranya, ternyata uangnya hanya dihabiskan untuk mabuk-mabukan. Katanya mau berobat ternyata….Mungkin kita sering menjumpai hal-hal yang tertulis tersebut. Sudah dibantu mengapa malah mengecewakan. Tentu saja itu menjadikan perasaan menyesal, perasaan kecewa, dan mungkin akan berpikir dalam hatinya: “Kalau tahu begitu, saya tidak akan membantu”, atau menggerutu: “Saya tidak akan membantu lagi”.

Sebenarnya, telah melakukan ini berkali-kali kita membuat kecewa Tuhan. Jalan hidup yang telah dianugerahi dengan pertolongan,tidak digunakan dengan semestinya. Itu bisa membuat kecewa, kesal dan menyesal. Tetapi meski demikian dalam surat Roma 11:29 menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki rasa penyesalan atas karunia rahmat dan panggilanNya. Kita telah diberi anugerah kasih karunia, dan Tuhan memanggil kita untuk kembali ke jalan yang benar. Anugrah yang besar adalah bahwa Tuhan rela datang ke dunia demi keselamatan dunia.

Sekarang adalah waktu yang baik untuk kita semua. Untuk menyadari dan merenungkan kasih dan kesetiaan Tuhan. Juga mengucap syukur di hadapannya, bahkan berjanji bahwa kita selalu bersukacita menjadi milik Tuhan. Dengan selalu menuruti dan melaksanakan kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, ya dalam keluarga,dalam gereja dan dalam kehidupan masyarakat sekitar kita. |*SHS

 

 

Sabtu, 18 September 2021 Minggu Biasa XIX

Pengkhotbah 1:1-18, Mazmur 1, Matius 23:29-39 link Alkitab

TIDAK BERGUNA

Inilah perkataan Pengkhotbah,anak Daud, raja di Yerusalem. Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkhotbah 1: 1-2)

Kursi, berguna untuk tempat duduk. Piring, digunakan untuk menyajikan nasi. Sedangkan uang digunakan untuk alat pembelian. Dan barang-barang lainnya tentu ada gunanya. Terlebih lagi hidup kita, pemberian Tuhan ini tentu lebih bermanfaat. Itu sebabnya jika ada barang-barang yang tidak  berguna atau bermanfaat itu disebut sampah atau rosok yang akan dibuang.

Lalu apa yang diinginkan Pengkhotbah (Salomo)? ketika dia bersaksi demikian, “…kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” ”(Pengkhotbah 1: 2). Sesungguhnya Pengkhotbah memberi peringatan dan ajaran kepada kita, bahwa segala sesuatu yang ada di seluruh bumi sama sekali tidak berguna jika manusia hanya kagum dengan keindahan barang tersebut. Semua ini tidak akan bermanfaat jika itu dijadikan tujuan hidup manusia, karena semuanya bersifat tidak kekal. Coba marilah kita lihat, apa gunanya memiliki uang segudang, jika kita tidak mendapatkan kasih Tuhan? Namun ketika uang itu digunakan untuk melakukan kehendak Tuhan, untuk membantu mereka yang membutuhkan, uang tersebut bisa dirasakan kegunaannya.

Marilah kita melanjutkan jalannya hidup dengan sadar dan selalu menggunakan harta di dunia sebagai sarana untuk mencari kehendak Bapa. Marilah kita hidup dalam berserah di dalam Kristus. Bahkan meneladani tentang kasih yang tulus. |*SHS

 

 

Minggu, 19 September 2021 Minggu Biasa XX

Amsal 31:10-31, Mazmur 1, Yakobus 3:13-4: 3, 7-8a, Markus 9:30-37 link Alkitab

BEREBUT KEDUDUKAN

“Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.? (Markus 9:34)

Siapa yang tidak senang menjadi orang yang hebat dan terkenal? Dii mana-mana tempat selalu dihormati dan memiliki hak yang lebih daripada orang lain. Itu sebabnya tidak mengejutkan semua orang ingin menjadi orang yang paling hebat, jika bisa posisi yang tertinggi.  Lalu ada persaingan “rebutan kedudukan”. Sayangnya pada saat yang bersaing berebut kedudukana  fokusnya tertuju pada posisi yang paling tinggi, segala cara dipergunakan, asalkan mendapat kedudukan yang paling tinggi.

Murid-murid Tuhan berdebat tentang siapa yang terbesar di antara murid-murid lainnya. Sepertinya  satu dengan lainnya yang berebut status kedudukan tersebut melupakan hal yang lebih penting sebagai murid Tuhan. Pada saat saling berebut itu, bahasa kasih menjauh dari para murid, karena jika dia ingin menjadi yang tertinggi dia harus mengalahkan yang lain. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengingatkan: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya. ” (Markus 9:35). Ajaran tersebut menjadi kebalikan dari apa yang diinginkan oleh para murid. Saat menjadi yang terakhir dan fokus menjadi pelayan membuat para murid mempunyai kewajiban melayani satu dengan yang lainnya. Demikian juga dengan kita marilah mengabdikan hidup kita untuk melayani. |*SHS