Home » Uncategorized » Renungan Sadar Bhs. Indonesia, Maret 2021

Renungan Sadar Bhs. Indonesia, Maret 2021

Senin, 8 Maret 2021 Minggu Pra-Paskah  III

1 Raja-raja 6: 1-4,21-22; Mazmur 84; 1 Korintus 3: 10-23

 

Milik Sang Kristus

“Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah.” (1 Korintus 3:23)

Banyak orang yang mengaku sebagai milik Tuhan tetapi cara hidupnya masih menuruti cara hidupnya sendiri. Orang-orang demikian,memiliki pemikiran bahwa Tuhan hanyalah alat bukan sebagai tujuan hidup. Tuhan dianggap sebagai alat, untuk mencapai semua keinginan, hawa nafsu, kepuasan diri. Pola hidupnya hanya tertuju untuk diri sendiri, disalahartikan dengan kata “jika aku memiliki segalanya, aku berhak untuk melakukan apa saja. ” Atau “Karena aku milik Tuhan, maka apapun bisa aku lakukan.”

Ya, jemaat di Korintus mengagungkan hikmat duniawi yaitu kepandaian, kekayaan materi. Benar bila jemaat masih hidup di dunia, sangat mudah kehidupannya tertuju dengan cara duniawi. Hidup dengan cara duniawi akan mudah menyebabkan pertengkaran dan perselisihan.

Rasul Paulus memperingatkan bahwa jemaat di Korintus memiliki semua yang dibutuhkan, karena  telah menjadi milik Tuhan. Sehingga tidak pantas bila menyombongkan tentang apa yang dimiliki.Meskipun  kita memiliki apa saja, kita harus merendahkan diri di hadapan Tuhan, karena Tuhan yang memiliki hidup kita. Jadi apa pun yang kita miliki harus dipakai untuk membangun tubuh Tuhan.

Menjadi milik Tuhan berarti rela menyalibkan daging; semua yang kita miliki, jika Tuhan akan memakainya kita harus rela. Hidup kita telah dipulihkan dari kehidupan yang rusak menuju kehidupan sejati. Kehidupan orang yang telah menjadi milik Tuhan Yesus, harus berpaling kepada Tuhan dan membangun ketaatan terhadap kehendak Tuhan dan hidup penuh dengan tanggung jawab. │ * JRY

 

Selasa, 9 Maret 2021 Minggu PraPaskah III

II Korintus 9: 1-11; Jabur 84; Ibrani 9: 23-28

 

Kemurahan Hati

“kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah   oleh karena kami. ” (II Korintus 9:11)

“Ora uwur, ora sembur” peribahasa Jawa yang menggambarkan orang yang tidak ingin terlibat baik berupa dana maupun pemikiran. Sikap seperti itu banyak djumpai orang jaman sekarang, yaitu orang yang hanya memikirkan  diri sendiri. Orang yang hidup di tengah masyarakat tetapi hanya  mementingkan diri sendiri tentu saja akan dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Sementara hidup kita tidak bisa sendirian, suatu saat kita juga akan butuh bantuan dari kiri dan kanan kita.

Rasul Paulus membangun jemaat di Korintus untuk memiliki sikap murah hati. Hidup di dalam Kristus akan menerima anugerah sikap kemurahan hati. Paulus meminta jemaatnya dalam memberikan bantuan tidak karena terpaksa tetapi dengan senang hati. Kasih, tidak hanya terbatas dalam ucapan tetapi harus diwujudkan dalam tindakan.

Kemurahan hati tentu tidak hanya terbatas pada uang atau materi, tetapi bisa juga berupa berbagi waktu, berbagi pemikiran, berbagi pemahaman, dan perhatian. Memberi pujian, memberi maaf, berterima kasih juga merupakan salah satu bentuk kemurahan hati.

Kemurahan hati adalah suatu sikap dalam menanggapi anugrah pemberian Tuhan. Bersikap murah hati tidak akan berdiam diri ketika orang-orang di sekitar kita membutuhkan pertolongan, tetapi  membantu dan menemani. Kemurahn hati adalah sikap hati yang sehat yang mengarah pada kebahagiaan hidup.

Ada banyak orang yang mementingkan diri mereka sendiri, semuanya ada hitung-hitunganya. Tapi kita diingatkan untuk selalu memiliki sifat murah hati. Percayalah, saat hidup kita memiliki kemurahan hati akan menanamkan rasa syukur di hadapan Tuhan. │ * JRY

 

 

Rabu, 10 Maret 2021 Minggu PraPaskah III

Ezra 6: 1-16; Jabur 84; Markus 11: 15-19

 

Korban Yang Menyenangkan

“supaya mereka selalu mempersembahkan korban yang menyenangkan kepada Allah semesta langit dan mendoakan raja serta anak-anaknya. ” (Ezra 6:10)

Hidup yang menyenangkan hati Tuhan haruslah menjadi prioritas yang utama. Untuk bisa hidup  menyenangkan hati Tuhan sungguh tidak mudah, karena kita harus bersedia meninggalkan hidup lama berganti dengan  cara hidup baru. Apakah persembahan kita sudah mendatangkan senangnya hati Tuhan? Apakah persembahan yang kita berikan masih ada pengharapan untuk dapat dikembalikan dengan berlipat ganda untuk hidup kita?

Saat kita memberikan persembahan kepada Tuhan, bukanlah diri kita sendiri yang menjadi patokan tetapi hanya perintah Tuhan sajalah. Sebab persembahan yang menyenangkan, adalah berupa apa yang telah ditentukan olehTuhan tidak menurut keinginan kita sendiri.Dasar kita memberikan persembahan  karena  dikehendaki Tuhan atau karena kita sanggup dan mampu memberi persembahan? Kita bisa memberi persembahan karena berkat Tuhan saja. Dengan cara tersebut, menjadi  pertanda ucapan syukur  dan penyerahan hidup kita di dalam pemeliharaan Tuhan.

Raja Darius memberi waktu bagi rakyatnya untuk kembali ke Yerusalem dan mempersembahkan korban kepada Tuhan Allah. Korban yang dipersembahkan itu juga sesuai dengan yang sudah ditentukan Tuhan. Meskipun Tuhan telah menetapkan korban yang harus dipersembahkan tetapi itu hanyalah alat. Materi itu, hanyalah alat untuk kita bisa bersyukur dan memberikan persembahan di hadapan Tuhan. Jadi materi bukanlah menjadi pusat dari persembahannya, tetapi mendatangkan kesenangan hati Tuhan, itulah yang menjadi pusatnya.

Untuk bisa menyenangkan hati Tuhan kita harus memiliki hidup yang mengarah kepada kehendak Tuhan. Tuhan senang kepada orang-orang yang menunjukkan ketaatan dalam hidup yang seutuhnya. Maka marilah kita memberikan tubuh kita juga. │ * JRY

 

 

Kamis, 11 Maret 2021 Minggu Paskah III

Kejadian 9: 8-17; Mazmur 107: 1-3,17-22; Efesus 1: 3-6

 

Dipilih Allah

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Efesus 1: 4)

 

Bagaimana rasanya jika hidup kita dipilih Allah? Sebenarnya apa yang membuat hidup kita berharga bagi Tuhan? Apakah  perbuatan baik kita?

Tuhan tahu waktu yang tepat untuk menentukan pilihan-Nya terhadap hidup kita. Tuhan menilai hidup kita bukan berdasarkan campur tangan pihak lain, tetapi berdasarkan kasih anugerah-Nya. Bila Tuhan memilih hidup kita pasti sudah mengetahui tujuannya, yaitu supaya hidup kita kudus dan tanpa cacat di hadapan-Nya, sebab Dia Kudus.

Sebelum Tuhan menciptakan dunia, Tuhan sudah merencanakan dan merancang hidup kita untuk menjadi anak-Nya yang terkasih. Kita sudah dalam rancangan dan perhatian Tuhan sebelum dunia ada. Meskipun manusia jatuh ke dalam dosa dan jauh dari-Nya, Dia bersedia merencanakan untuk mengembalikan hubungan yang telah rusak. Melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus yang menderita dan mati di kayu salib, hidup kita  menjadi kudus dan kekal.

Begitu pula dengan jalan yang akan kita pilih, sebenarnya Tuhan menuntun hidup kita untuk mengikuti jalan yang benar dan yang tidak salah. Tuhan masih memberikan kebebasan untuk hidup kita dalam memilih menanggapi kehendak Tuhan atau tidak. Jika kita menyadari bila hidup kita dipilih Tuhan karena anugerah-Nya, tentu saja kita sudah sepantasnya untuk menghaturkan ucap syukur. Sekarang bagaimana jika Tuhan memilih hidup kita untuk melayani Dia? Apakah kita akan menanggapi dengan menjawab: “Ya, dengan sepenuh hati saya?” * JRY

 

 

Jumat, 12 Maret 2021 Minggu PraPaskah III

Daniel 12: 5-13; Mazmur 107: 1-3,17-22; Efesus 1: 7-14

 

Hidupku Menjadi Pujian

“supaya kami,yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya ” (Efesus 1:12)

Apakah hidup kita bisa menjadi sebuah pujian? Berarti apapun yang kita lakukan Nama Tuhan dimuliakan. Apakah hidup kita masih sering menimbulkan pertengkaran dan perselisihan?

Rasul Paulus membangun jemaat di Efesus,dengan  apapun yang terjadi dalam kehidupan yang dijalani supaya bisa menjadi alat untuk  meluhurkan kemulian-Nya. Sebab hidup jemaat telah menerima Injil keselamatan dan mendengar firman Tuhan. Juga telah  menjadi orang  percaya yang dimateraikan dalam Roh Kudus.

Kehidupan yang mau dibimbing oleh pekerjaan Roh Kudus akan mematuhi kehendak Allah. Yang menjadi kehendak Allah, yaitu manusia percaya dan menerima Karya Sang Kristus yang telah menjadi penebus yang sempurna. Hidup yang telah ditebus oleh Sang Kristus membuat manusia kembali  menjadi milik Tuhan, maka Nama Tuhan dimuliakan.

Jemaat hidupnya dipanggil  sebagai teladan, yaitu hidup yang bertanggung jawab terhadap iman percayanya. Karena banyak orang yang jatuh dalam sikap hidup yang tidak bertanggung jawab, tetapi hanya menuruti kemauannya sendiri.

Hidup yang bertanggung jawab akan dipupuk melalui kata-kata,perbuatan dan hati yang bersih menjadi alat dimana nama Tuhan dimuliakan. Sehingga orang yang melihat hidup kita selanjutnya juga akan memuliakan Nama Tuhan. * JRY

 

 

Sabtu, 13 Maret 2021 Minggu PraPaskah III

Bilangan 20: 22-29; Mazmur 107: 1-3,17-22; Yohanes 3: 1-13

 

Suara angin

“Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh ” (Yohanes 3: 8)

Siapa yang bisa melihat bentuk angin? Masing-masing dari kita tentu saja belum pernah melihat angin, tetapi kita yakin kalau angin itu ada. Sejak kecil kita diajari bahwa angin adalah obyek yang mustahil terlihat tetapi bisa kita rasakan kekuatannya. Kekuatan angin yang semilir sepoi-sepoi terasa menyejukkan, tetapi jika tenaga angin terlalu kuat dan besar bisa merusak apa saja. Karenanya kekuatan angin itu benar-benar menakjubkan. Datangnya angin mudah dimengerti jika kita mendengar suaranya atau bunyinya.

Yesus memberikan pengertian dan penekanan pada Nikodemus bahwa orang yang ingin memasuki Kerajaan Allah harus dilahirkan dari air dan roh. Hidup yang menginginkan bisa lahir baru ,harus mau menerima pekerjaan Roh Kudus yang membimbing, memperbarui dan menguduskan. Kata Yunani pneuma berarti roh dan angin.

Roh itu sama dengan angin meskipun  tidak terlihat bentuknya, dapat  dipahami dengan mendengarkan bunyinya dan mengamati kekuatannya. Pekerjaan Roh Kudus dapat dirasakan di hati manusia percaya.. Roh Kudus selalu berbicara di dalam hati orang percaya, menunjukkan jalan yang benar, jalan yang harus diikuti menurut kehendak Tuhan Allah.

Roh Kudus memberi kemampuan  setiap orang untuk bisa hidup baru di dunia ini Jadi marilah kita selalu mendengarkan suara Roh Kudus, kemudian hidup baru terlahir dalam hidup kita. * JRY

 

 

Minggu, 14 Maret 2021 Minggu PraPaskah IV

Bilangan 21: 4-9; Mazmur 107: 1-3,17-22; Efesus 2: 1-10; Yohanes 3: 14-21

Belas kasih

“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita. ” (Efesus 2: 4)

Mengekspresikan belas kasih kepada orang yang telah menyakiti hidup kita tidak mudah. Lebih mudah bagi kita untuk bertindak kasih kepada mereka yang berbuat baik pada hidup kita. Belas kasih itu adalah suatu perasaan kasih yang peduli dan memperhatikan.

Tuhan melimpahkan belas kasihNya dalam hidup kita tidak tergantung pada kebaikan hidup kita. Dia itu kaya belas kasih, karena kasihNya yang besar untuk hidup kita. Meskipun berulang-ulang hidup kita berbuat jahat di hadapan-Nya tetapi Dia selalu melimpahkan belas kasihnya. Dia adalah sumber belas kasih, meskipun kita sering melanggar hukum-hukumNya,tetapi Tuhan Allah selalu mengampuni hidup kita. Dia tidak memperhitungkan lagi dosa kita saat kita percaya  pekerjaan Sang Kristus yang menyelamatkan..Dari kasih Tuhan yang besar itu, bukan berarti Dia senang dengan perbuatan jahat kita. Dia menghendaki supaya hidup kita memasuki hidup baru dengan mewujudakan belas kasih

Apabila hidup kita dalam bertindak dengan penuh kasih masih tergantung pada sikap orang lain terhadap diri kita, tentu tidak ada bedanya dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Banyak orang membutuhkan belas kasih untuk bisa kembali memahami dan menerima belas kasihan Tuhan. Kita dipanggil untuk menunjukkan belas kasih kita untuk semua makhluk. * JRY