Home » Uncategorized » Renungan Sadar Bhs. Indonesia, Maret 2021

Renungan Sadar Bhs. Indonesia, Maret 2021

Senin, 14 Juni 2021 Biasa VI

1 Samuel 13: 23–14-23; Mazmur 53; Galatia 6:11-18 link Alkitab

BISA MENYADARI

“Tidak sadarkah orang-orang yang melakukan kejahatan, yang memakan habis umat-Ku seperti memakan roti, dan yang tidak berseru kepada Allah?” (Mazmur 53: 5)

Pemazmur menunjukkan bagaimana perasaan  Tuhan Allah ketika melihat tingkah laku manusia di dunia ini yang berlawanan dengan kehendakNya. Pemazmur menyampaikan bahwa ketika itu manusia tidak dapat menyadari  tindakannya yang berhadap-hadapan dengan Firman Tuhan, manusia tega menganiaya dan menindas sesamanya sampai menderita. Semua tindakan tersebut menggambarkan bahwa manusia sudah tidak ingat lagi dengan namaNya Tuhan Allah.

Bacaan kita sungguh menggugah hati dan hidup kita sebagai umat Allah. Kita diajak untuk melihat bagaimana tingkah polah kita dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita sepertinya saja tampak rajin mengikuti ibadah atau kegiatan Gereja lainnya tetapi ketika pulang kembali dari gereja atau kegiatan, apakah kita masih sering mudah marah kepada orang lain? Apakah kita terlihat sebagai orang benar tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita menindas sesama yang miskin dengan uang pinjaman dengan bunga yang bessar? Apa kita ini terlihat baik tetapi sering menghindar saat diminta bantuan oleh orang yang membutuhkan pertolongan? Apakah kita benar-benar menyadari bahwa semua tindakan tersebut tidak menyenangkan hati Tuhan?

Mari kita selalu ingat bahwa ibadah atau kegiatan rohani kita tidak hanya di gereja, tetapi juga berusaha untuk bisa nyata hadir dalam hidup keseharian ketika kita bekerja untuk melakukan tanggung jawab kita dan ketika hidup bersama-sama dengan sesama.Marilah semua sabda yang kita terima dari mimbar bisa diterapkan juga di tengah-tengah pasar. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita bisa menjalankan perintah panggilan Tuhan Allah untuk nelakukan firman Tuhan demi terwujudnya perdamaian dunia dan kebahagiaan sesama. * ohpn

 

Selasa, 15 Juni 2021 Minggu BIASA VI

1 Samuel 15:10-23; Mazmur 53; Wahyu 21:22 – 22:5 link Alkitab

YANG NAJIS TIDAK BISA….

“Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu. (Wahyu 21:27)

Apa yang menggerakkan hati kita ketika kita mendengar kata “najis” dan “nista”? Mungkin banyak orang kemudian menyebutkannya tentang tindakan suka mencuri, ringan tangan, berzina, membunuh sesama dan sebagainya. Bacaannya ini benar-benar menunjukkan bahwa semua orang yang bertindak nista, tidak akan bisa memasuki ‘Yerusalem Baru.’ Tetapi marilah kita rasa-rasakan dengan mendalam. Mungkin masing-masing dari kita saat ini sama sekali tidak berbuat nista seperti suka mencuri, ringan tangan,berzina apalagi membunuh orang lain. Secara lahir, kita terlihat baik. Namun, Siapa yang bisa memahami pikiran hati manusia?

Bukan hanya orang yang bertindak nista yang tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah, tetapi juga segala sesuatu yang najis. Meskipun perbuatan kita tidak jahat, tetapi hati kita penuh dengan kenajisan. apakah kita masih bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah? Contoh hati yang nista adalah hati yang penuh kebencian, dengki dan iri dengan orang lain yang lebih pandai atau lebih kaya dari kita. Begitu juga hati yang penuh dengan kesombongan, adigang,adigung,adiguna! Tuhan Allah menginginkan hati yang murni, tulus dan suci; jauh dari hati yang najis.

Sebagai manusia biasa, tidak dapat dipungkiri bahwa semua rasa yang buruk terkadang masih muncul di hati kita. Puji Tuhan, Sang Roh Kudus selalu membimbing hati kita. Karena itu, jika perasaan ini tumbuh dalam hati kita segera memohon pengampunan dan memohon supaya Roh Kudus menyucikan hati kita. Semakin kita dekat dengan Roh Kudus, semakin kita dimampukan terbebas dari segala kuasa segala rasa itu. Semoga selanjutnya, ketika kita menghadapi paripurna hidup, Tuhan Allah menemukan hati kita benar-benar bersih, murni dan suci. Disucikan oleh darah Sang Kristus dan dibimbing oleh kuasa Roh Kudus. * ohpn

 

Rabu, 16 Juni 2021 Minggu Biasa VI

1 Samuel 15: 24-31; Mazmur 53; Lukas 6: 43-45 link Alkitab

TUTUR KATA

“Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” (Lukas 6: 45b)

Bacaan ini berdasar firman Tuhan bahwa dari buahnya, kita bisa memahami bagaimana sifat manusia yang sebenarnya. Buah dapat berupa  tutur kata, sikap atau perilaku. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa tutur kata diucapan dari mulut manusia itu keluar dari lubuk hati yang terdalam. Jika tutur katanya baik, sopan dan bijaksana, sewajarnya berasal dari hati yang murni. Meskipun memang ada juga orang yang tutur katanya terlihat baik namun hatinya belum tentu baik. Ini artinya menjadi manusia yang munafik. Tetapi kalau tutur katanya jelek, banyak menghina dan fitnah terhadap sesama, itu pasti keluar dari hati yang najis dan tidak murni.

Seringkali kita mendengar ungkapan bahwa ‘penglihatan adalah sebagai jendela hati’. Tetapi kita juga bisa merasa-rasakan bahwa mulut itu juga bisa menjadi jendela hati. Jadi ada juga ungkapan jawa ‘Ajining dhiri saka kedhling ati’  bagaimana tutur kata kita , itu menyinarkan bagaimana isi hati kita. Bahkan adapula ungkapan di masyarakat bahwa ‘Tutur kata itu lebih tajam dari pedang” Penting jika kita harus menjaga mulut kita,  tutur kata kita. Orang lain yang akan menilai bagaimana harga diri kita dari kata-kata yang terucap dari mulut kita.

Oleh karena itu, marilah kita menjaga hati kita tetap bersih dan murni. Seperti tumbuhan, kita berupaya agar hati kita tumbuh subur rasa kasih sayang dan kerendahan hati. Jika perasaan dan sikap ini tumbuh di hati kita, semua tutur kata dan tindakan kita benar-benar berguna, memberkati dan melindungi sesama. Ibarat makanan,maka ini adalah makanan penuh gizi, bukan yang banyak racunnya! Kita itu dimampukan untuk menjadi tempat tujuan, bukan batu sandungan. Mari! * ohpn

Kamis, 17 Juni 2021 Minggu Biasa VI

1 Samuel 16: 14-23; Mazmur 9:9-20; Kisah Para Rasul 20: 1-16 link Alkitab

MENEGAKKAN KEADILAN

“Dialah yang menghakimi dunia dengan keadilan dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran.“ (Mazmur 9: 9)

“Maaf Bapak, kenapa gaji saya telat setengah bulan dan bahkan dipotong setengah? Apakah ini salah saya?” Itu salah satu ratapan karyawan merasa tertindas atasannya. Dia terkejut karena dia merasa tidak pernah melakukan kesalahan dalam pengerjaan dan sebelumnya juga tidak ada penjelasan apapun dari atasannya. Bagian dari cerita ini menunjukkan bahwa keadilan tidak mudah diwujudkan dalam masyarakat.

Kisah lain adalah ketika Mahatma Gandhi diusir saat akan menghadiri ibadah di gedung gereja orang Inggris. Dia adalah seorang non-Kristen. Tapi dia senang sekali dengan ajaran Tuhan Yesus dalam Injil. Dia diusir karena bukan keturunan ‘kulit putih’. Orang India tidak boleh beribadah di gereja itu! Oleh karena itu, Mahatma Gandhi kemudian mengatakan bahwa dia senang dengan Sang Kristus, tetapi tidak senang dengan pengikutNya! Kisah ini juga menceritakan tentang tindakan tidak adil. Dan masih banyak lagi cerita yang menunjukkan bahwa ketidakadilan itu masih ada nyata di dunia kemanusiaan!

Dua cerita ini menunjukkan banyak ketidakadilan yang terjadi di dunia ini. Tuhan Allah adalah Tuhan yang adil. Itu sebabnya Dia akan memberikan hukuman kepada mereka yang tidak berbuat adil. Tuhan Allah memerintahkan kita untuk berlaku adil di tengah keluarga, gereja dan masyarakat. Keadilan dilakukan tanpa membeda-bedakan suku dan agama. Keadilan juga berbelas kasih kepada semua orang yang membutuhkan pertolongan. Keadilan adalah menegakkan apa yang perlu ditegakkan. Itulah mengapa ada ungkapan bahwa “meskipun langit runtuh, hukum dan keadilan tetap harus ditegakkan! ” Saat Tuhan Allah menegakkan keadilan, begitu pula kita dipanggil untuk menegakkan keadilan! * ohp

 

 

Jumat, 18 Juni 2021 Minggu Biasa VI

1 Samuel 17: 55–18: 5; Mazmur 9:9-20; Kisah Para Rasul 21: 1-16 link Alkitab

BERPADU

Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.. ” (1 Samuel 18: 1)

Hubungan antara Yonatan dan Daud benar-benar luar biasa dan sangat indah. Apa pentingnya hubungan ini? Meskipun derajat Daud jauh lebih rendah, tetapi Yonatan, putranya raja Saul, ingin menjadikan Daud teman dekat. Yonathan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri! Bahkan dalam bacaan selanjutnya, meskipun Raja Saul, ayahnya, memiliki perasaan benci dan iri kepada Daud, dia tetap mengasihi Daud dengan tulus hati . Benar-benar elok dan luar biasa!

Kisah hubungan Yonatan dan Daud benar-benar menggugah kita untuk meneladani mereka berdua. Hubungan yang tidak memikirkan status sosial. Semoga kita dimampukan mewujudkan sebuah hubungan yang tulus. Hubungan yang merasakan bahagia jika temannya bahagia, yang merasa prihatin apabila temannya sedih, yang mengingatkan jika temannya melakukan sesuatu yang tidak benar. Tuhan Yesus pernah berkata, sahabat sejati adalah sahabat yang rela mempertaruhkan nyawa demi membela atau menolong sahabatnya. Itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesus bersedia memjadikan manusia sebagai sahabatnya dan rela mempertaruhkan nyawanya di kayu salib!

Ini benar-benar bukan hal yang mudah. Apalagi jika teman yang kita kasihii itu pernah menyakiti hati kita. Utk memulai kembali hubungan seperti sebelumnya itu sangat berat. Ini membutuhkan waktu agar persahabatan  bisa terjalin kembali. Tapi kita bisa memohon kepada Allah agar hati kita dipadukan lagi dengan hati teman kita tadi. Betapa indahnya apabila kita memiliki hubungan yang penuh kasih sayang dengan saudara-saudara disekeliling kita, di tengah-tengah gereja dan masyarakat! Seperti Yonatan dan Daud!* ohpn

 

Sabtu, 19 Juni 2021 Minggu Biasa VI

1 Samuel 18: 1-4; Mazmur 9:9-20; Lukas 21: 25-28 link Alkitab

BANGKITLAH

“Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat” (Lukas 21:28)

Dalam menjelaskan satu hal, Tuhan Yesus sering mengajarkan dengan perumpamaan untuk menceritakan tentang Kerajaan Surga. Bacaan hari ini menunjukkan ketika Tuhan Yesus mengajar tentang akhir zaman ketika Anak Manusia datang, dalam awan, dengan kuasa; dan kemuliaan yang besar. Salah satu pertanda yang akan terjadi ketika Anak Manusia datang untuk menyelamatkan umat-Nya; yaitu adalah tanda alam berupa kilatan-kilatan di langit dan gelora laut. Itulah sebabnya ketika semua ini terjadi, kita diperintahkan supaya bangkit bangun dan melihat ke atas untuk melihat awan menunggu kedatangannya Anak Manusia!

Perkataan Tuhan Yesus mengajar kita untuk selalu siap karena sewaktu-waktu Dia datang kepada kita. Di dalam kita bersiap itu adalah dengan membangun hubungan kita dengan Tuhan Allah melalui ibadah dilakukan bersama-sama, begitu juga doa secara pribadi. Kita juga menyambut dengan kedatangan Tuhan dengan mewujudkan cinta kasih kepada sesama; terlebih bagi yang membutuhkan bantuan, sebagai bentuk ibadah setiap hari. Tetapi sayangnya, ada beberapa orang Kristen yang tidak mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. “Nah, tanda-tanda alam itu  belum datang, kan? Masih lam! Kenapa harus bersiap sekarang? Nanti saja kalau sudah datang, baru bertobat. Enak kan!  Itu yang sering menjadi alasannya!

Apabila kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi dengan tanda-tanda alam. Tetapi kita tidak bisa mengerti kapan kita akan dipanggil oleh Tuhan Allah. Jadi marilah kita selalu siap dan berjaga. Tuhan Allah tidak berkenan dipermainkan atau dicobai (Galatia 6:7). Tuhan Allah menghendaki supaya para orang percaya selalu sungguh-sungguh bersiap dan berjaga meskipun tidak tahu kapan waktunya. Untuk itu, marilah bangkit!* ohpn

 

 

Minggu, 20 Juni Minggu Biasa VII

1 Samuel 17: (1a, 4-11, 19-23), 32-49; Mazmur 9:9-20; 2 Korintus 6:1-13; Markus 4: 35-41 link Alkitab

DIAM DAN TENANGLAH!

“Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. ” (Markus 4:39)

Apa yang ada di hati kita ketika membaca tentang  Tuhan Yesus yang memiliki kuasa untuk menghentikan badai? Karya Tuhan Yesus itu mengherankan. Dia tidak hanya memiliki kuasa untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan, tetapi juga memiliki kuasa untuk mengendalikan alam; termasuk angin dan laut. Ketika Dia berkata; “diam dan tenanglah!”, semua yang ada di dunia ini kemudian menuruti perintahnya.

Tetapi setelah menguasai angin dan laut, Tuhan Yesus menegur murid-muridnya yang imannya  goyah ketika menghadapi badai. Jika mereka benar-benar percaya, para murid tidak akan bingung dan takut, tetapi mampu mantap dan tenang. Ketika mantap dan tenang, para murid dimampukan memohon pertolongan kepada Tuhan Allah. Rasul Petrus menyatakan: “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. ”(1 Petrus 4: 7b). Jadi tidak hanya angin dan laut yang diam dan tenang, tetapi para murid juga harus diam, tenang, dan mantap supaya dimampukan berdoa memohon pertolongan dari Tuhan Allah.

Memang dalam hidup, kita sering menghadapi badai yang menambah beban kita. Tapi jika kita benar-benar percaya, kita bisa merasa-rasakan dengan tenang bahwa Tuhan Yesus memiliki kuasa untuk mengakhiri semua badai hidup. Dengan ketenangan hati, kita akan dapat berdoa memohon belas kasihan Tuhan Allah. Marilah kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan tulus untuk dimampukan menghadapi semua tantangan hidup satu demi satu dengan tetap teguh dan tabah sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus. Untuk itu, jangan takut, cemas dan putus asa dalam menghadapi kesulitan kehidupan. Marilah katakan, “Diam dan tenanglah!” * ohpn